Oleh: Dr Ramadhan Pohan, Mantan Manajer Timnas Senior PSSI 2012, Mantan Pimpinan Komisi I DPR-RI
Bangkitlah, terjagalah, dan jangan berhenti sampai tujuan tercapai — Swami Vivekananda, filsuf India
INDONESIA akhirnya juara, setelah berkali-kali kita lemas dan sport jantung dengan perasaan mengharu-biru silih berganti. Senin malam, 5 Oktober 2026, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Garuda menaklukkan Thailand melalui adu penalti 4–2 setelah bertarung 120 menit dengan skor 2–2. Presiden Prabowo Subianto menyaksikannya bersama sekitar 67 ribu penonton yang memadati tribun dan tentu ratusan juta publik bola Indonesia lewat teve dan internet. Kegelisahan panjang berubah menjadi sorak, pelukan, dan air mata. Penantian 35 tahun sejak emas sepak bola senior SEA Games 1991 memperoleh jawaban pada panggung baru, FIFA ASEAN Cup edisi perdana. Hadiah tambahannya: Mitch Baker meraih Sepatu Emas dengan lima gol. Malam itu, Indonesia menemukan kembali rasa menjadi juara. Bahagia betul.
Enam kali menjadi juara kedua AFF—2000, 2002, 2004, 2010, 2016, dan 2020—menjelaskan mengapa kegembiraan ini begitu dalam; pada kesempatan lain, kita malah tersisih di grup. Padahal, wilayah yang kini menjadi Indonesia pernah hadir di Piala Dunia 1938 sebagai Hindia Belanda, dengan Achmad Nawir, Tan Mo Heng, Isaac Pattiwael, dan Suwarte Soedermandji. Setelah merdeka, Indonesia benar-benar tampil di Olimpiade Melbourne 1956. Saat itu Ramang, Maulwi Saelan, Tan Liong Houw, dan Thio Him Tjiang gagah perkasa menahan Uni Soviet 0–0 sebelum kalah dalam pertandingan ulang. Perunggu Asian Games 1958 menegaskan bahwa generasi itu mempunyai bobot di Asia. Masa-masa itu Indonesia pernah disegani, dengan Soetjipto Soentoro, Iswadi Idris, Abdul Kadir, dan Jacob Sihasale pada era berikutnya. Pada 1980-an, Rully Nere, Zulkarnaen Lubis, Bambang Nurdiansyah, Herry Kiswanto, serta Dede Sulaiman meneruskan perjuangan, termasuk dalam kualifikasi Piala Dunia 1986.
Di GBK, Senin malam Kevin Diks, Elkan Baggott, Dean James, Emil Audero, Ole Romeny, dan Baker memberi wajah baru pada keberanian itu. Tendangan bebas Dean pada menit ke-84 membawa Indonesia unggul; tiga menit kemudian Iklas Sanron menyamakan kedudukan. Thailand bahkan membalikkan keadaan melalui Peeradol Chamrasamee pada menit ke-111, meskipun bermain dengan sepuluh orang. Saya membayangkan begitu banyak penonton mulai lemas: waktu menipis, kaki pemain berat, harapan kembali terancam. Namun, Baggott menjawab pada menit ke-116. Bek yang sebelumnya kehilangan bola dalam proses gol Thailand itu bangkit, mencetak gol penyama, dan membawa pertandingan menuju adu penalti. Kesalahan tidak menjadi akhir cerita nantinya.
Diks, pemain Borussia Mönchengladbach, sudah mengakui kendala fisik sebelum final, tetapi tetap memimpin dan menuntaskan penalti pertama dengan tenang. Dean, Baggott, lalu Shayne Pattynama mengikuti: empat eksekutor, empat gol. Romeny, yang sempat berlatih terpisah dan diragukan kebugarannya, tetap tampil; bagi saya, kesediaan berjuang itu memperlihatkan kecintaan kepada Indonesia. Baker pun baru 19 tahun—genap 20 pada Desember—tetapi keberaniannya melampaui umur. Di ujung lain, Audero, kelahiran Mataram, membawa pengalaman Juventus dan Inter Milan, serta kini Rayo Vallecano di Liga Spanyol. Sarach Yooyen gagal pada penalti ketiga Thailand; Audero kemudian menepis tembakan Nattapong Sayriya. Kita menduga ada rasa gentar di kepala dan sanubari penendang lawan terhadap Audero. Tak susah memblok tendangan Yooyen itu.
Di belakang mereka berdiri John Herdman dan tim yang bekerja dalam tekanan. Pada Agustus, Indonesia kalah 0–3 dari Vietnam, kemudian tersingkir setelah ditahan Singapura 1–1; maka kekecewaan publik mempunyai alasan. Perbandingan dengan Shin Tae-yong pun terus mengiringi pekerjaan pelatih baru ini. Tetapi Herdman tidak datang tanpa bekal: ia membawa Kanada ke Piala Dunia 2022 setelah penantian 36 tahun, serta tim putrinya meraih perunggu Olimpiade 2012 dan 2016. Ia dibantu Elliot Dickman untuk penyerangan, Steven Vitoria—mantan kapten Kanada—untuk pertahanan, serta Simon Grayson dan Nova Arianto dalam dukungan teknis. Grayson memiliki pengalaman membawa klub-klub Inggris promosi; Nova menjaga kesinambungan pengetahuan tentang pemain Indonesia.Herdman memahami bahwa tim matang melalui ujian, sementara sebagian publik sudah terlalu letih untuk mendengar kata “proses”. Ketika Thom Haye mendapat kartu merah melawan Malaysia pada 28 September, Indonesia bertahan dengan sepuluh pemain dan menjaga hasil 0–0. Herdman menyebut situasi itu berkah sekaligus kesulitan: kesempatan menguji soliditas dan kekokohan tim. Melawan Bangladesh, dua gol pada menit ke-90 6 dan ke-90 7 membalikkan ancaman tersingkir menjadi tiket final. Kini Thailand memberi ujian lebih keras, dan para pemain kembali bertahan sampai menemukan jalan. Penantian puluhan tahun memang membuat kita tidak sabar; kemenangan ini menunjukkan bahwa ketekunan mempunyai hasil yang dapat dilihat.
Ketahanan semacam itu mempunyai penjelasan ilmiah. David Fletcher dan Mustafa Sarkar, peneliti psikologi olahraga di Loughborough University, Inggris, mewawancarai 12 juara Olimpiade dalam penelitian yang terbit pada 2012. Mereka menemukan peran motivasi, kepercayaan diri, fokus, dan dukungan sosial dalam membantu atlet menghadapi tekanan sebagai tantangan. Temuan itu tidak berarti siapa pun yang bersemangat pasti menang. Namun, hasil penelitian itu membantu menjelaskan mengapa tim yang tetap saling percaya masih mampu bekerja ketika penonton sudah pasrah. Di GBK, yang saya lihat ialah keyakinan yang terus diterjemahkan menjadi lari, umpan, tekel, dan keberanian mengambil penalti. Epik.
Bangsa ini pun lahir melalui perjalanan yang tidak mudah: proklamasi, revolusi, perlawanan bersenjata, dan diplomasi untuk mempertahankan kemerdekaan dari upaya Belanda kembali berkuasa. George McTurnan Kahin, ilmuwan politik Cornell University, Amerika Serikat, mendokumentasikan nasionalisme serta perjuangan tersebut dalam Nationalism and Revolution in Indonesia (Nasionalisme dan Revolusi Indonesia). Dari sejarah itu saya menarik pelajaran tentang kemauan bertahan ketika hasil belum pasti. Lapangan sepak bola tentu berbeda dari medan revolusi, tetapi daya juang dapat menjadi ingatan bersama. Merah Putih di dada bukan jimat kemenangan. Ia mengingatkan pemain bahwa perjuangannya ditonton dan dipercayai oleh sebuah bangsa.
Editor : Editor