DJUANDA: Seorang Insinyur yang Menjadi Pahlawan Nasional

Ir Djuanda (dok)
Ir Djuanda (dok)

Menjadi Pejabat PemerintahanPertemuan Djuanda dengan dunia pergerakan nasional dan kehidupan politik, dimulai dengan keterlibatan beliau dalam organisasi orang-orang sesukunya, yakni Pagoejoeban Pasoendan (PP) di tahun 1934. Melalui organisasi inilah, beliau dapat berkenalan dengan cita-cita partai dan para pemimpinnya, serta dapat menjajaki politik pemerintahan Kolonial Belanda terhadap bangsa Indonesia.

Beberapa bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan, Djuanda diangkat sebagai kepala Djawatan Kereta Api RI, tepatnya pada tanggal 23 Januari 1946. Periode inilah, yang menjadi awalan karier Djuanda sebagai pemimpin dalam pemerintahan. Jabatan dalam perkeretaapian tersebut merupakan hal yang baru bagi Djuanda, sebab beliau ditugaskan pemerintah untuk mengatur kembali perkeretaapian yang sejak zaman Jepang kacau dan sangat menyedihkan.Tidak lama kemudian, Djuanda diangkat menjadi Menteri Perhubungan dalam Kabinet Sjahrir II di tahun 1946. Setelahnya, berturut-turut dalam beberapa kabinet diangkat sebagai menteri yakni pada Kabinet Hatta tahun 1946 sebagai Menteri Perhubungan merangkap Menteri Pekerjaan Umum. Kemudian pada Kabinet RIS tahun 1949 diangkat sebagai Menteri Kemakmuran, dan pada Kabinet Natsir tahun 1950 kembali menjabat sebagai Menteri Perhubungan.

Setelah itu dalam dua kabinet selanjutnya, yakni Kabinet Ali Sastroamidjojo I dan Kabinet Burhanuddin Harahap beliau tidak dimasukkan sebagai anggota kabinet. Pada masa Kabinet Ali Sastroamidjojo II tahun 1957, barulah diangkat sebagai Menteri Negara Urusan Perencanaan. Selama masa hidupnya, Djuanda satu kali menduduki jabatan menteri muda dan empat belas kali menduduki jabatan menteri dengan rincian sekali sebagai Perdana Menteri dan tiga kali menjadi menteri pertama, dalam 17 kabinet hingga tahun 1963.Begitu banyaknya jabatan menteri yang dipegang, membuat pers pada masa itu memberikan beliau julukan sebagai “Menteri Marathon”, sebagaimana yang diwartakan oleh Harian Merdeka tanggal 8 November 1963, karena hampir terus-menerus sejak tahun 1946 hingga 1963 duduk dalam kabinet.

Selama menduduki pos-pos kementerian, beragam masalah beliau coba atasi dan benahi.Pertama, pada saat menjabat sebagai Menteri Perhubungan, beliau mencoba mengatasi permasalahan perhubungan darat terutama kereta api, karena melihat adanya kemungkinan perang maka diputuskan untuk memindahkan Balai Besar KA dari Cisurupan ke Gombong dan Kebumen. Kedua, saat menjabat sebagai Menteri Kemakmuran, beliau ditugaskan untuk mengatur ekonomi negara agar sejalan dengan program kabinet, serta harus berusaha agar jutaan rakyat Indonesia mendapat pangan, sandang dan perumahan yang cukup.

Hal itu merupakan tugas yang sangat berat, karena masyarakat saat itu terkena dampak akibat perang yang berkepanjangan melawan Belanda sehingga perekonomian sangat terganggu. Ketiga, saat menjabat kembali sebagai Menteri Perhubungan, beliau berhasil meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi perkembangan pelayaran umum, pelayaran niaga dan pelayaran laut. Sementara itu, pada perhubungan darat melakukan nasionalisasi perusahaan kereta api milik Belanda SS/VS dan melakukan peremajaan armada kereta api.Setelah sekian lama berkecimpung sebagai menteri, akhirnya pada tanggal 8 April 1957 Presiden Soekarno mengumumkan Djuanda sebagai Perdana Menteri yang baru, menggantikan Ali Sastroamidjojo. Beliau kemudian membentuk kabinet baru, bernama Kabinet Karya. Saat periodenya sebagai Perdana Menteri, terjadi peristiwa pergolakan di beberapa daerah. Pergolakan-pergolakan tersebut beliau coba redam, dengan berkeliling daerah sebagai dasar awal normalisasi keadaan. Hingga akhirnya, beliau mengeluarkan keterangan akan diadakannya Musyawarah Nasional (Munas) untuk menyelesaikan persoalan tersebut dengan jiwa persatuan dan persaudaraan, demi terciptanya pernyataan bersama yang akan membawa perdamaian antara pusat dan daerah.

Tetapi, semua itu buyar akibat adanya ultimatum dari Dewan Banteng agar Kabinet Djuanda mengundurkan diri, sehingga kerukunan yang tadinya telah tercipta kembali berada diambang perpecahan. Djuanda sebagai seorang pemimpin pemerintahan, yang telah berjuang bersama dalam membangun bangsa serta negara, merasa sedih dan prihatin akan kondisi negara tercintanya. Hingga akhirnya, tindakan tegas pun diambil oleh Djuanda dengan memerintahkan militer untuk melancarkan serangan ke Sumatera Tengah dan Sulawesi Utara agar situasi di daerah dapat dikendalikan kembali.Salah satu prestasi besar yang akan selalu dikenang dalam pemerintahannya, yakni ditandatanganinya Deklarasi Djuanda pada tahun 1957. Deklarasi ini adalah, deklarasi yang menyatakan kepada dunia Internasional, bahwa laut Indonesia termasuk satu kesatuan wilayah NKRI. Dengan adanya deklarasi tersebut, menjadi sebuah tonggak awal bagi kedaulatan maritim Indonesia kedepannya. Selain deklarasi, ada juga peristiwa Pembebasan Irian Barat pada rentang waktu 1961-1962 dalam bentuk Operasi Trikora, yang juga terjadi pada masa pemerintahannya. Sebenarnya, masih banyak peran-peran penting beliau selama menjabat sebagai Perdana Menteri, seperti pernah diberi kepercayaan beberapa kali oleh Presiden RI, untuk bertindak sebagai pejabat presiden dalam beberapa kesempatan.

Refleksi TokohSemua pengabdian Djuanda kepada bangsa dan negara mencapai titik akhirnya pada tanggal 7 September 1963, dimana beliau menghembuskan nafas terakhir akibat serangan jantung hebat di sebuah acara di Hotel Indonesia.

Sebagai seorang pejabat yang duduk di pemerintahan, beliau tidak pernah masuk ataupun menjadi anggota partai politik. Sehingga, tidak pernah terlibat dalam pertiakaian partai dan pergolakan politik. Selain itu, kabinet beliau juga merupakan kabinet terlama yang dapat bertahan setelah penyerahan kedaulatan, karena diisi oleh menteri-menteri yang kompeten dibidangnya serta dipimpin oleh Perdana Menteri yang tidak punya ambisi politik, sehingga mendapat respek dan dukungan penuh dari semua pihak. Dapat disimpulkan bahwa, Djuanda merupakan seorang tokoh bangsa yang berjuang secara ikhlas demi kepentingan bangsa dan negara, untuk membawa Indonesia lebih baik lagi kedepannya tanpa adanya ambisi-ambisi kuat untuk kepentingan pribadi.Kita sebagai anak muda, hendaknya dapat mengambil pelajaran serta meneladani sikap dari kisah hidupnya, bagaimana perjuangan dan dedikasi seorang tokoh kepada bangsa dan negara. Kedepannya, kita lebih menghormati jasa para pahlawan dengan tidak melakukan perbuatan yang dapat merusak persatuan ataupun mengacaukan keutuhan bangsa Indonesia.(analisa)

Peserta Kuliah Menulis Artikel Sejarah) 

  

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner InfografisBanner - Gor
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini