Program Pengurangan Emisi melalui Perbaikan Sampah Perkotaan itu dilakukan dengan melibatkan warga di kelurahan Bukit Apit Puhun, Kecamatan Guguk Panjang, Kota Bukittinggi. Yakni bersama Kelompok Budi Daya Maggot Sejati dan Rumah Kompos Kelurahan Bukit Apit Puhun.Dengan mengajak masyarakat untuk memilah sampah antara yang organik dan anorganik, lalu melakukan proses Reduce, Reuse, Recycle (3R), diharapkan masalah yang ada di Kota Bukittinggi bisa berangsur-angsur teratasi.
Budaya Pengelolaan Sampah[caption id="attachment_83918" align="aligncenter" width="2560"]
Membudayakan pengelolaan sampah warga peduli sampah bersama WALHI studi ke Dangau Inspirasi Uda Djoni di Padang. (dok)[/caption]
Agus Teguh Prihartono dari WALHI Sumbar yang mendampingi warga Bukit Apit Puhun mengatakan, budaya pengelolaan sampah sendiri terkait dengan perilaku baik."Tidak gampang mengubahnya, dari kondisi awal yang abai terhadap pengelolaan sampah sampai ingin memilah. Butuh kerja keras agar terciptanya perilaku baik tersebut," kata pria yang biasa disapa Teguh tersebut, Rabu 27/12-2023.
Ia menjelaskan, hal awal yang harus dilakukan setiap orang adalah memberi contoh dan tauladan. Tidak muluk-muluk.Misal kata Teguh, dengan membiasakan memilah sampah organik dan anorganik. Semua itu katanya, memang butuh edukasi yang baik dengan memperbanyak sosialisasi serta melibatkan seluruh stakeholder.
"Itu yang kita lakukan awal-awal untuk membuka atau memunculkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah," tutur Teguh yang telah mendampingi warga sejak bulan Mei lalu.Ia berharap ada perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah di masyarakat. Di sisi lain, target awal yang ingin dicapai adalah dari masing-masing rumah tangga yang ada. Yaitu, meningkatnya pemilihan sampah ditingkat keluarga atau rumah tangga.
Teguh menceritakan ketika pertama terlibat dalam program tersebut hanya ada tiga rumah tangga yang memilah sampah dari organik dan anorganik. Tepatnya di RW 4 kelurahan Bukit Apit Puhun, Kecamatan Guguk Panjang, Kota Bukittinggi.Hal senada diutarakan Sri Selvia Elisa (35 tahun) salah seorang warga di Kelurahan Bukit Apit Puhun, awalnya kesadaran untuk memilah sampah sendiri sangat minim, terutama di Bukit Apit Puhun.
Ketika masyarakat diajak memilah sampah kata Sri, sebagian warga menolak. Sebab ada anggapan bahwa memilah sampah itu merepotkan.Namun belakangan ungkapnya, beberapa Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang ada di kelurahan tersebut tidak beroperasi lagi. "Jadi warga mengeluh, kemana mereka dapat membuang sampah," ucap Sri, Rabu.Beriringan dengan hal tersebut, Sri yang juga anggota Komunitas Peduli Sampah yang diinisiasi WALHI di Bukit Apit Puhun, tengah ingin menyalurkan sepasang tong untuk memilah sampah organik dan anorganik."Akhirnya kondisi sendiri yang membuat masyarakat harus memilah, karena TPS sudah tidak ada. Kebetulan pas kami membagikan tong sampah, barulah warga ingin ikut juga, soalnya sudah tidak bisa membuang sampah keluar (TPS)," ujar Sri.
Nantinya, tiap kantong sampah di rumah-rumah warga akan dijemput oleh operator dengan becak motor untuk dikirim ke rumah kompos dan maggot. Dengan satu syarat kata Sri, sampah-sampah hanya akan diangkut jikalau sudah dipilah antara yang organik dan anorganik.Saat ini katanya, bersama WALHI Sumbar, sudah dibagikan 100 pasang tong sampah organik dan anorganik kepada warga di RW 4. Dari pembagian tersebut, sudah ada 49 rumah tangga yang memilah sampah, dari yang awalnya hanya tiga KK saja.
Selebihnya ungkap Sri, warga juga telah berkomitmen untuk memilah sampah. Hanya saja masih belum konsisten menerapkannya setiap hari. Kadang memilah kadang tidak.Ia berharap seluruh warga di lingkungannya bisa memilah sampah dengan aktif dan berkelanjutan. Sebab itu semua katanya, berpengaruh dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan bermanfaat.
Editor : Adrian Tuswandi, SH