Bukittinggi Bisa Lumpuh Karena Sampah, Ini Masyarakat Peduli Sampah di Bukit Apit Puhun Bukittinggi

Masyarakat Peduli sampah Bukittinggi didampingi WALHI Sumbar bertekat jadikan sampah menjadi nilai tambah penghasilan warga. (dok)Membudayakan pengelolaan sampah warga peduli sampah bersama WALHI studi ke Dangau Inspirasi Uda Djoni di Padang. (dok)Sampah
Masyarakat Peduli sampah Bukittinggi didampingi WALHI Sumbar bertekat jadikan sampah menjadi nilai tambah penghasilan warga. (dok)Membudayakan pengelolaan sampah warga peduli sampah bersama WALHI studi ke Dangau Inspirasi Uda Djoni di Padang. (dok)Sampah

Untuk maggot, prosesnya kata Pak Tuah, dimulai dengan pengambilan telur. Jikalau tidak tersedia, maka budidaya bisa dimulai dengan lalat indukan."Pertama pupa dimasukkan ke dalam waring. Lalu setelah empat hari ia akan menjadi lalat, dan kemudian dua hari setelah keluar dari cangkangnya, dia akan bertelur. Kami sendiri dengan menggunakan media kayu. Jadi di sela-sela kayu nanti ia akan bertelur," ucap Pak Tuah menerangkan.

Setelah itu, sekitar tiga atau empat hari telur akan menetas, kemudian langsung menuju ke makanan dari sampah organik rumah tangga. Telur yang baru menetas itu disebut bayi maggot.Perlu waktu seminggu atau delapan hari sampai bayi maggot itu dapat dipindahkan dari media penetasan ke biopond.

"Tinggal kita proses pembesaran ke dalam biophone kurang lebih sepuluh hari. Setelah maggot berumur 18 hari, itu sudah bisa panen untuk pakan ternak dan ikan," ujarnya.Pak Tuah sendiri telah melakukan budidaya Maggot setahun belakangan. Lewat pengalaman itu jelasnya, untuk 20 gram telur maggot saja, setidaknya membutuhkan sekitar 80 kilogram sampah organik.

Hal itu ia rasa sangat efektif, melihat jumlah sampah yang dihasilkan tiap orang per harinya di Bukittinggi kurang lebih sebanyak satu kilogram. Artinya, lewat pengelolaan sampah dan budidaya maggot skala kecil saja, sudah berefek cukup besar dalam mengatasi masalah sampah.Kemudian, tak hanya mengurangi jumlah sampah, maggot yang telah dipanen Pak Tuah dan kawan-kawan jadikan sebagai pengganti pakan ternak.

"Sebelumnya kita untuk pakan ayam saja bisa mengeluarkan biaya pakan yang cukup besar. Kalau kita membudidayakan maggot otomatis pakan ternak yang biasanya kita beli lebih mahal, sekarang bisa kita atasi dengan budidaya maggot," tuturnya."Ibuk-ibuk disini bisa membiasakan memakai pupuk organik dari kasgot (sisa residu maggot). Menghindari pemakaian pupuk kimia. Baik itu juga untuk ternak ayam, ikan, atau lahan pertanian perkotaan," lanjut Pak Tuah.

Kelompok budidaya Bukit Apun saat ini telah menyiapkan lahan pertanian perkotaan dengan 15 bedengan yang akan ditanami sayur-sayuran.Mereka juga membuat rumah pembibitan di bekas lahan yang sebelumnya tidak produktif. Lokasinya berdekatan dengan rumah kompos dan maggot Sejati.

Pak Tuah mengatakan, ia dan anggota kelompok budidaya lainnya berkomitmen untuk melakukan pertanian organik. Kompos yang telah mereka hasilkan kurang lebih 500 kilogram akan diaplikasikan pada bedengan yang telah dibuat.Selain itu, kompos dan maggot dapat diintegrasikan dalam sistem bioflok sebagai sumber nutrisi tambahan untuk ikan. Pemberian maggot dapat meningkatkan kandungan protein dalam pakan ikan, sementara kompos dapat membantu memelihara kualitas air dan memberikan nutrisi bagi bakteri bioflok.

Penerapan limbah organik ini ke dalam sistem bioflok dapat membantu meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya dan meminimalkan dampak negatif pada lingkungan.Integrasi ini tidak hanya menciptakan siklus tertutup dalam pengelolaan sampah, tetapi juga mendukung pertanian dan budidaya ikan yang berkelanjutan.

Penerapan praktik-praktik ini di tingkat urban dapat membantu mengurangi dampak negatif pada lingkungan dan meningkatkan ketahanan pangan lokal."Saya optimis untuk kedepannya, khususnya kelurahan Bukit Apit Puhun. Saya akan mencoba menggerakkan dan mengkampanyekan terutama dalam pengelolaan sampah dan budidaya maggot untuk mengurangi masalah sampah.

Dengan tonase sampah yang kita buang setiap harinya, bisa berkurang, dengan terkelolanya sampah di 24 kelurahan di Bukittinggi," ujar Pak Tuah dengan semangat.Tantangan dan Harapan Dalam Pengelolaan Sampah Kedepan

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner InfografisBanner PLN Black Out
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini