[caption id="attachment_83921" align="aligncenter" width="1280"]
Belajar untuk memahami sampah bisa hasilkan rupiah, meski penuh tantangan mengelolanya. (dok)[/caption]Selain budaya di masyarakat, salah satu tantangan utama dalam pengelolaan sampah adalah, kurangnya infrastruktur pengelolaan sampah yang memadai. Sistem pengumpulan, pemilahan, dan daur ulang sampah perlu untuk ditingkatkan secara terus menerus.
Saat ini di Kota Bukittinggi belum ada peraturan atau kebijakan mengenai operasional Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R).Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3, dan Peningkatan Kapasitas Dinas Lingkungan Hidup Kota Bukittinggi, Asrar Fernando, mengatakan kedepannya akan ada rencana pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).
"Kota Bukittinggi telah berencana melakukan pengelolaan sampah dengan membuat TPST di tahun 2024. Direncanakan kita di dinas Lingkungan Hidup akan ada TPST yang rencananya akan berada di belakang kantor," tutur Asrar, Selasa 26/12-2023.Selain itu, ia mengatakan TPST tersebut direncanakan akan menggunakan teknologi TPS3R.
Asrar sendiri menyampaikan apresiasi kepada WALHI Sumbar dengan menjadikan kota Bukittinggi sebagai pilot projek dalam program pengurangan sampah."Jadi kedepan kami sangat berharap apa-apa yang telah dilakukan WALHI ini dapat menjadi contoh bagi kelurahan-kelurahan lain di Kota Bukittinggi. Sehingga dapat menjadikan Kota Bukittinggi yang bersih dengan melakukan pengelolaan sampah dengan baik," ucapnya.
Sebab ungkap Asrar, baik dari sisi efisiensi anggaran maupun prospek jangka panjang, jauh lebih baik dengan adanya kelompok budidaya di masyarakat. Hal ini juga dapat menjadi penghasilan tambahan bagi masyarakat Kota Bukittinggi.Ia menghimbau masyarakat Kota Bukittinggi untuk melakukan pemilihan sampah mulai dari rumah. Pemerintah Kota Bukittinggi kata Asrar siap membantu masyarakat dalam pembinaan dan sosialisasi. Sehingga sampah-sampah dapat bernilai dan berharga bagi masyarakat.
Kita mengetahui, sampah bukan hanya menjadi isu estetika, tetapi juga merupakan sumber berbagai masalah lingkungan yang perlu ditangani secara serius. Sampah yang berserakan dapat mencemari sungai-sungai dan saluran air, mengakibatkan kerusakan ekosistem air dan berdampak negatif pada flora dan fauna setempat.WALHI Sumbar ungkap Teguh, ikut konsen melihat masalah ini terutama terhadap peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Sampah organik yang membusuk di tempat pembuangan sampah menghasilkan metana, gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan global lebih besar dibanding karbon dioksida."Ini menjadi ancaman nyata terhadap upaya mitigasi perubahan iklim. Terlebih saat ini dampak global warming itu makin terasa. Peningkatan suhu, dan dampak-dampak bagi kesehatan manusia," kata Teguh menjelaskan.Intinya lanjut Teguh, kalau masalah sampah dibiarkan, itu semua bisa merambah ke berbagai aspek kehidupan. Termasuk ke dalam masalah sosial, kesehatan, budaya, ekonomi, bahkan pertahanan.
Ia mengatakan, semua stakeholder harus berpikir bagaimana masalah sampah harus dicarikan solusinya secara bersama-sama."WALHI pada tahap ini sudah melakukan contoh-contoh kecil. Seperti di RW 4 ini. Bahwa sampah harus dikelola mulai dari tingkat rumah tangga pertama-tama. Ada pemilihan, kemudian sampahnya dikelola dan diolah, bisa jadi maggot, kompos, dan lain-lain. Ada turunannya, maggot bisa menjadi pakan ternak, unggas, ikan, dan banyak hal lainnya. Masalah selesai, lingkungan baik, ekonomi bisa meningkat," tutur Teguh.
Lalu terakhir, ia mengajak kepada seluruh masyarakat meningkatkan kampanye lingkungan. Baik dari mulut ke mulut atau via internet. Sehingga banyak orang makin sadar akan pentingnya pengelolaan sampah. (report by: Dharma Harisa/Jum’at, 29 Desember 2023)
Editor : Adrian Tuswandi, SH