Bukittinggi Bisa Lumpuh Karena Sampah, Ini Masyarakat Peduli Sampah di Bukit Apit Puhun Bukittinggi

Masyarakat Peduli sampah Bukittinggi didampingi WALHI Sumbar bertekat jadikan sampah menjadi nilai tambah penghasilan warga. (dok)Membudayakan pengelolaan sampah warga peduli sampah bersama WALHI studi ke Dangau Inspirasi Uda Djoni di Padang. (dok)Sampah
Masyarakat Peduli sampah Bukittinggi didampingi WALHI Sumbar bertekat jadikan sampah menjadi nilai tambah penghasilan warga. (dok)Membudayakan pengelolaan sampah warga peduli sampah bersama WALHI studi ke Dangau Inspirasi Uda Djoni di Padang. (dok)Sampah

Di rumah kompos dan maggot sejati RW 4 Bukit Apit Puhun sendiri, kegiatan budidaya sudah cukup efektif dilakukan. Ketua Kelompok Budidaya Sejati, Gazali (44), mengatakan saat ini mereka telah bisa memproduksi 50-60 kilogram maggot setiap bulannya.Saat ini per kilogramnya, maggot bisa dijual dengan harga Rp. 8000, rupiah. Hal itu diperuntukkan utamanya untuk pakan ternak dan unggas. Seperti ayam, itik, burung kicau, bahkan pakan ikan lele atau ikan hias seperti koi dan arwana.

Budidaya Maggot jelas Pak Tuah (panggilan akrab Gazali), sangat bergantung pada persedian pakan. Dalam hal ini pakan yang dimaksud adalah sampah organik rumah tangga."Untuk saat ini, dengan terlaksananya program WALHI dan adanya pemilihan sampah warga, kami telah bisa mengumpulkan sampah warga per 2 harinya sekitar 50-40 kilogram," katanya.

Sebab ketersediaan sampah organik yang dipilah belum maksimal, produksi maggot di kelompok budidaya sejati masih dalam proses berkembang.Pak Tuah sendiri optimis, kedepannya masyarakat Bukit Apit Puhun akan lebih banyak dan lebih tinggi tingkat kesadarannya memilah sampah.

"Barangkali akan ada lagi pembudidaya maggot lainnya di kelurahan ini," ucapnya.Ia mengatakan, awalnya sebagian masyarakat belum ada yang mengerti tentang apa itu maggot.

"Jadi setelah kami beri pemahaman, disitu masyarakat mulai mengerti apa keuntungan dan apa dampak positif yang ditimbulkan dari budidaya Maggot," ujar Pak Tuah.Sekarang di kelompok yang dipimpinnya, suda ada tujuh orang yang bergerak secara aktif. Pak Tuah dan warga lainnya di kelompok budidaya Sejati berkomitmen akan melaksanakan pembudidayaan Maggot ini secara berkelanjutan. "Terkhususnya di RW 4 dan kedepannya bisa mencakupi kelurahan," tegasnya.

Mengingat kebelakang kata Pak Tuah, awalnya karena sudah terlalu banyaknya sampah organik yang tidak terkelola dengan baik dan menimbulkan polusi untuk lingkungan yang berdampak untuk kesehatan.Dari situ mereka berinisiatif, dengan adanya budidaya maggot, sekurang-kurangnya dilingkungan sekitar, sampah organik dapur bisa dikelola dengan baik.

"Sampai saat ini kami cukup bersyukur dengan adanya bantuan dari Dinas Lingkungan Hidup soal rumah maggot. Serta dengan adanya program WALHI kami juga terbantu, dari situlah ibuk ibuk bisa berperan aktif untuk bercocok tanam," tuturnya.Integrasi Pengelolaan Sampah dan Budidaya Pertanian di Perkotaan

[caption id="attachment_83920" align="aligncenter" width="1600"] Kelompok Budaya Maggot Sejati integrasikan kota dengan budidaya pertanian. (dok)[/caption]Dikelolanya sampah mulai dari pemilahan organik dan anorganik, hingga mendaur ulangnya menjadi pupuk kompos dan larva maggot, dapat menciptakan suatu ekosistem budidaya berkelanjutan.

Kelompok budidaya Sejati di kelurahan Bukit Apit Puhun sendiri memanfaatkan hasil pengolahan tersebut untuk memulai pertanian di perkotaan dan membudidayakan ikan dengan sistem bioflok.Pak Tuah menjelaskan, mulanya dia sebagai operator dari rumah kompos akan mengambil sampah yang telah dipilah warga dari setiap rumah-rumah penduduk.

Sampah anorganik warga nantinya akan dikirim ke truk pengangkut untuk dibawa ke TPAS atau dipilah kembali oleh pengepul. Sedangkan sampah organik yang terdiri dari sampah dapur dan tanaman, akan diolah menjadi kompos dan maggot di kelompok budidaya Sejati.Saat ini ditempat mereka telah tersedia fasilitas seperti hangar, germor, dan pencacah organik untuk membuat pupuk kompos. Begitupun dengan budidaya maggot, mereka telah memiliki hangar, biopond, dan rumah lalat BSF (lalat tentara hitam). Semuanya dalam kondisi baik untuk melakukan budidaya.

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner InfografisBanner PLN Black Out
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini