Geopark di Ranah Minang TIdak Hanya Lomba Lari, Tanpa Kesiapn Geo Culture & Authentic Gastronomy

Dr. H Febby Dt Bangso Sst.Par M.Par QRGP, CFA - Ketua umum Hipparin (Himpunan Pengusaha dan peofessional Pariwisata Indonesia). (Foto: Ist)
Dr. H Febby Dt Bangso Sst.Par M.Par QRGP, CFA - Ketua umum Hipparin (Himpunan Pengusaha dan peofessional Pariwisata Indonesia). (Foto: Ist)

Geopark seharusnya menjadi ruang tafsir—interpretive landscape—yang menyediakan pemahaman tentang hubungan bumi, budaya, dan manusia. Namun dalam praktik di lapangan, geosite tergeser menjadi arena-event.

Jejak vulkanik yang berusia 25.000 tahun ditutup backdrop sponsor.

Bukit yang menyimpan sejarah purba ditandai garis start.

Universitas mengajarkan geologi,

ninik mamak mengajarkan adat,

tambo mengajarkan memori kolektif.

Tapi event geopark mengajarkan… cara mengambil foto terbaik setelah garis finish.

Dalam satir Minang:

“Geopark kini alah jadi dunia balari, bukan dunia memahami diri.”

3. Geo-Culture: Harta Tak Ternilai yang Tak Pernah Masuk Rundown

Editor : MS
Banner InfografisBanner - Gor
Bagikan

Berita Terkait
Terkini