Geopark seharusnya menjadi ruang tafsir—interpretive landscape—yang menyediakan pemahaman tentang hubungan bumi, budaya, dan manusia. Namun dalam praktik di lapangan, geosite tergeser menjadi arena-event.
Jejak vulkanik yang berusia 25.000 tahun ditutup backdrop sponsor.
Bukit yang menyimpan sejarah purba ditandai garis start.
Universitas mengajarkan geologi,
ninik mamak mengajarkan adat,
tambo mengajarkan memori kolektif.
Tapi event geopark mengajarkan… cara mengambil foto terbaik setelah garis finish.Dalam satir Minang:
“Geopark kini alah jadi dunia balari, bukan dunia memahami diri.”
3. Geo-Culture: Harta Tak Ternilai yang Tak Pernah Masuk Rundown
Editor : MS