Geopark di Ranah Minang TIdak Hanya Lomba Lari, Tanpa Kesiapn Geo Culture & Authentic Gastronomy

Dr. H Febby Dt Bangso Sst.Par M.Par QRGP, CFA - Ketua umum Hipparin (Himpunan Pengusaha dan peofessional Pariwisata Indonesia). (Foto: Ist)
Dr. H Febby Dt Bangso Sst.Par M.Par QRGP, CFA - Ketua umum Hipparin (Himpunan Pengusaha dan peofessional Pariwisata Indonesia). (Foto: Ist)

Dalam banyak dokumentasi geopark, geo-culture hanya muncul sebagai catatan kaki, bukan amanat utama. Tidak ada tambo yang diceritakan, tidak ada kaba yang didendangkan, tidak ada silek yang dipertontonkan, tidak ada folklore yang dihidupkan.

Padahal, dari Luhak Nan Tuo hingga rantau, orang Minang mengenal:

batu bersusun yang lahir dari legenda,

puncak yang dikaitkan dengan kaba,

danau yang diselimuti misteri adat,

lembah yang menjadi arena sejarah migrasi.

Tapi di banyak event geopark, semua itu dikalahkan oleh timeline: registrasi—lari—foto—pulangi.

Inilah yang disebut orang tua-tua: “kambiang barubah jadi kuda pacu” benda yang bukan untuk lomba malah diperlombakan.

4. Gastronomi Autentik Minang: Hilang di Tanahnya Sendiri

Mungkin inilah satir terbesar dari seluruh fenomena geopark.

Editor : MS
Banner InfografisBanner - Gor
Bagikan

Berita Terkait
Terkini