"Keputusan tertinggi dalam adat salingka nagari Koto Nan Ompek adalah permufakatan para pemangku adat, Ka Ompek Suku, Alim Ulama Cadiak Pandai tigo tungku sajarangan, Jiniah nan Ompek, secara terbuka, transparan dan dilewakan di atas Balai Adat Nagari. Kalau tidak melalui proses ini, maka apapun keputusan yang di ambil dianggap tidak sah dan tidak boleh mengatas namakan nagari," tegas Dt. Simarajo Lelo.
Kabag Humas Pemko Payakumbuh Syafrianto yang dikonfirmasi awak media tentang beredarnya Draft Perjanjian KAN-PEMDA itu, mengaku tidak mengetahuinya. "Ndak tau wak do Da," kata Syafrianto melalui pesan WA, Sabtu (3/1/2026) petang.
Gerak cepat Pemko Payakumbuh menuntaskan Akta Perjanjian dengan KAN, bersamaan pula dengan makin dekatnya rencana Rapat Akbar Niniak Mamak Nagari Koto Nan Ompek pada 9 Januari 2026. Rapat Akbar dan Silaturahmi Anak Nagari nanti juga berupa meminta laporan, klarifikasi, terhadap Tim Aset Nagari, Ka Ompek Suku, secara terbuka agar tidak ada fitnah, dugaan, sambil merapatkan barisan Anak Nagari Koto Nan Ompek dari segala upaya adu domba pihak luar.
"Permasalahan tanah ulayat Pasar Syarikat ini mau urusannya jadi panjang dan pendek tergantung sikap Wali Kota Zulmaeta. Mau tetap memaksakan kehendak dengan pola sekarang maka akan berhadapan dengan gugatan hukum Niniak Mamak serta sanksi moral adat dari masyarakat. Tapi kalau mau pendek bisa juga, silahkan datang ke Balai Adat Nagari Koto Nan Ompek secara terbuka, duduk bersama bermufakat dengan pemangku adat mencari solusi terbaik. Niniak Mamak sangat terbuka untuk itu karena salah satu tugas Niniak Mamak itu juga adalah kusuik nan ka manyalasaikan, kok karuah nan ka manjaniahkan. Pai tampek ba tanyo, pulang tampek ba barito," kata Dr. Anton Permana mengakhiri siaran persnya. (***) Editor : Editor




