Ini bukan semata soal kapasitas personal, melainkan soal penyiapan kepemimpinan nasional.
Apakah kita sedang menyaksikan:
- seorang wakil presiden yang belum diproyeksikan untuk panggung global?
- atau sebuah sistem yang belum memberi ruang bagi regenerasi diplomasi?
Dalam dunia yang bergerak cepat dan penuh ketidakpastian, pemimpin tidak diberi kemewahan untuk “menunggu siap”.
Mereka harus disiapkan untuk siap sejak awal.
Antara Kelemahan Sistem dan Kecerdikan Taktik
Namun demikian, membaca langkah ini semata sebagai kelemahan adalah simplifikasi yang berbahaya.
Dalam praktik hubungan internasional, terutama di kawasan penuh sensitivitas seperti Timur Tengah, diplomasi tidak selalu berjalan melalui jalur resmi. Justru sering kali, jalur informal—yang diisi oleh tokoh-tokoh dengan kredibilitas personal—menjadi lebih efektif.
Dalam konteks ini, Jusuf Kalla bukan sekadar “pengganti”, melainkan instrumen diplomasi non-formal yang memiliki keunggulan:- fleksibilitas komunikasi
- jaringan personal lintas kepentingan
- serta kepercayaan historis dari berbagai pihak
Negara, dalam hal ini, tampak menggunakan pendekatan hybrid diplomacy—memadukan jalur formal dan informal untuk memaksimalkan hasil.
Masalah yang Lebih Dalam: Regenerasi yang Tertunda
Tetapi tetap saja, ada persoalan mendasar yang tidak boleh diabaikan.
Editor : Editor