Ketika Negara Memanggil Jusuf Kalla, dan Bukan Wapresnya Sendiri

Irdam Imran, Alumni Pascasarjana Ilmu Politik Unas 2007. (Foto: Ist)
Irdam Imran, Alumni Pascasarjana Ilmu Politik Unas 2007. (Foto: Ist)

Jika setiap krisis besar selalu diselesaikan dengan memanggil figur lama, maka kita sedang menghadapi: krisis regenerasi kepemimpinan diplomasi.

Negara tidak boleh bergantung pada “stok lama” tanpa menyiapkan “generasi penerus” yang mampu berdiri dengan kapasitas setara—atau bahkan lebih baik.

Tanpa itu, Indonesia akan selalu:

  • reaktif, bukan proaktif
  • bergantung, bukan mandiri
  • dan tertinggal dalam kompetisi kepemimpinan global

Menatap ke Depan: Diplomasi sebagai Sistem, Bukan Figur

Peristiwa ini seharusnya menjadi cermin.

Bahwa diplomasi bukan sekadar tentang siapa yang dikirim, tetapi: bagaimana negara membangun sistem yang mampu melahirkan banyak Jusuf Kalla baru—tanpa harus terus memanggil yang lama.

Dan bagi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, ini adalah momentum refleksi: bahwa kepemimpinan nasional di era global menuntut lebih dari sekadar posisi.

Ia menuntut kapasitas, keberanian tampil, dan legitimasi internasional.

Penutup

Ketika negara memanggil Jusuf Kalla, kita patut bersyukur karena masih memiliki sosok dengan pengalaman dan jaringan yang mumpuni.

Namun pada saat yang sama, kita juga harus jujur bertanya:

sampai kapan negara akan terus bergantung pada masa lalu untuk menyelesaikan masa depan?

Editor : Editor
Banner InfografisBanner PLN Black Out
Bagikan

Berita Terkait
Terkini