Antara Adat Basandi Syarak dan Bayang-Bayang "Robohnya Surau Kami": Membaca Ketegangan Nilai di Minangkabau

Irdam Imran, Penulis esai politik, sosial, dan kebudayaan. (Foto: Ist)
Irdam Imran, Penulis esai politik, sosial, dan kebudayaan. (Foto: Ist)

Penutup

Membaca Sumatera Barat hari ini tidak cukup hanya dengan kacamata kekhawatiran sosial, tetapi juga dengan refleksi budaya yang lebih dalam. Robohnya Surau Kami mengingatkan bahwa krisis terbesar bukan semata pada perilaku sosial, tetapi pada ketika nilai kehilangan daya hidupnya dalam realitas sehari-hari.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar penegasan moral, tetapi juga rekonstruksi makna adat dan agama agar tetap hidup, dialogis, dan relevan bagi generasi baru.

Dengan demikian, “surau” tidak perlu roboh untuk kedua kalinya—yang perlu dibangun kembali adalah jembatan makna antara nilai lama dan kehidupan baru. (***)

Editor : Editor
Banner InfografisBanner - Gor
Bagikan

Berita Terkait
Terkini