Namun takdir berkata lain. Pertandingan pembuka melawan Spanyol menjadi panggung pertama bagi Vozinha untuk menunjukkan kelasnya. Kiper berusia 38 tahun ini tampil seperti tembok tak tertembus.
Bertubi-tubi serangan yang dilancarkan tim Matador berhasil dipatahkannya dengan penyelamatan-penyelamatan spektakuler.
Pertandingan berakhir 0-0, dan dunia mulai bertanya-tanya, siapa sebenarnya kiper tua ini.
Perlahan, cerita tentang Vozinha mulai menyebar. Seorang kiper gaek yang menghabiskan sebagian besar karirnya di klub-klub kecil Portugal dan Tanjung Verde.
Tidak pernah bermain di liga-liga top Eropa, tidak pernah menjadi sorotan media besar.
Namanya bahkan nyaris tidak dikenal di luar negerinya sendiri.
Namun di usianya yang tak lagi muda, ia membawa pengalaman, ketenangan, dan yang terpenting, hati yang membara untuk negaranya.Pertandingan kedua melawan Uruguay menjadi ujian yang lebih berat. Uruguay, dengan striker-striker haus gol seperti Darwin Núñez, menekan sejak menit pertama.
Tanjung Verde bahkan sempat unggul lebih dulu melalui tendangan bebas spektakuler Kevin Pina dari jarak 31 meter yang menjadi gol pertama dalam sejarah mereka di Piala Dunia.
Namun Uruguay menyamakan kedudukan dan bahkan berbalik unggul 2-1.
Editor : Editor