Di sinilah Vozinha kembali menunjukkan mengapa ia layak disebut pahlawan. Beberapa penyelamatan krusialnya mencegah Uruguay menambah gol, dan pada akhirnya Tanjung Verde mampu menyamakan skor menjadi 2-2. Hasil imbang ini membuat peluang lolos mereka tetap terbuka.
Namun pertandingan paling menentukan terjadi melawan Arab Saudi. Di laga pamungkas grup H ini, hanya kemenangan yang bisa memastikan langkah Tanjung Verde ke babak gugur.
Namun hasil imbang 0-0 ternyata cukup, karena di pertandingan lain Spanyol berhasil mengalahkan Uruguay 1-0, yang berarti skuad asuhan pelatih mereka itu lolos sebagai runner-up grup.
Di balik hasil imbang ini, Vozinha kembali menjadi bintang. Arab Saudi yang juga membutuhkan kemenangan menyerang habis-habisan.
Tapi setiap kali bola mengarah ke gawang Tanjung Verde, selalu ada Vozinha yang menghadang.
Tangkapan-tangkapan mantapnya, antisipasi terhadap umpan silang, hingga penyelamatan-penyelamatan reflex yang membuat para penyerang Arab Saudi frustrasi.Di penghujung pertandingan, saat Arab Saudi melancarkan serangan terakhir, Vozinha membuat penyelamatan ganda yang membuat seluruh pemain dan staf Tanjung Verde menangis haru di pinggir lapangan.
Di usianya yang menginjak 40 tahun, Vozinha menjadi pemain tertua yang tampil di Piala Dunia 2026. Tapi usia justru menjadi kekuatannya.
Setiap penyelamatan yang ia lakukan adalah hasil dari pengalaman puluhan tahun, dari kegagalan demi kegagalan yang ia lewati, dari mimpi yang tidak pernah padam meskipun dunia tidak pernah memperhatikannya.
Ada momen yang mengharukan di akhir pertandingan melawan Arab Saudi. Saat peluit panjang dibunyikan dan kepastian lolos ke babak 32 besar ada di tangan mereka, Vozinha berlutut di lapangan.
Editor : Editor