Oleh: Shamsul Iskandar Mohd Akin
(Mantan Kepala Staf Politik Datuk Seri Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Malaysia dan Anggota Parlemen Malaysia 2013–2022).
Dalam politik, kemenangan besar sering kali menciptakan sebuah ilusi yang berbahaya. Ilusi bahwa mandat yang besar akan menjamin kelangsungan kekuasaan untuk jangka waktu yang panjang. Padahal, sejarah politik dunia justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Mandat besar dapat hilang dengan cepat ketika sebuah pemerintahan gagal mengelola harapan rakyat yang semakin tinggi.
Apa yang terjadi pada Keir Starmer dan Partai Buruh di Inggris patut menjadi bahan renungan. Pada tahun 2024, Starmer memimpin Partai Buruh meraih kemenangan besar yang mengakhiri lebih dari satu dekade pemerintahan Partai Konservatif. Ia dipandang sebagai simbol perubahan dan harapan baru bagi rakyat Inggris yang telah lelah menghadapi ketidakpastian politik dan tekanan ekonomi.
Namun tidak lama kemudian, dukungan terhadap dirinya mulai merosot. Kemenangan besar yang dianggap sebagai awal dari era baru akhirnya berubah menjadi beban politik yang sulit dipikul.
Di sinilah saya teringat pesan almarhum Mohammad Natsir. Beliau pernah mengingatkan bahwa banyak pejuang berhenti mendayung ketika merasa dirinya sudah hampir sampai ke pantai. Padahal kenyataannya mereka masih berada di tengah arus. Ketika dayungan berhenti, arus akan membawa mereka ke arah yang tidak pernah diduga.Inilah sesungguhnya pelajaran terbesar dari kisah Keir Starmer.
Memenangkan pemilu dan mengelola negara adalah dua hal yang berbeda.
Ketika menjadi oposisi, Partai Buruh berhasil meyakinkan rakyat bahwa pemerintahan Konservatif harus diganti. Namun ketika kekuasaan berada di tangan mereka, rakyat mulai mengajukan pertanyaan yang lebih besar.
Bukan lagi siapa yang harus disingkirkan, tetapi ke mana negara ini akan dibawa.
Editor : Editor