Ormas dalam Pusaran Demokrasi Elektoral dan Politik Transaksional

Irdam Imran, Esei Resonansi. (Foto: Ist)
Irdam Imran, Esei Resonansi. (Foto: Ist)

Dan oligarki selalu mencari pintu masuk baru.

Resonansi

Maka persoalan sebenarnya bukan berapa banyak ormas yang berdiri di belakang pemerintah, melainkan seberapa kuat ormas berdiri di samping rakyat.

Jika 103 ormas berkumpul untuk mendukung pembangunan, itu adalah hak politik yang sah. Tetapi dukungan tersebut akan memiliki nilai demokratis apabila disertai keberanian melakukan kritik.

Sebab civil society bukan “cheerleader” kekuasaan.

Civil society adalah cermin yang harus berani memperlihatkan wajah kekuasaan apa adanya.

Dalam demokrasi elektoral yang semakin mahal dan politik yang semakin transaksional, ormas berada di persimpangan jalan: menjadi kekuatan masyarakat sipil, atau menjadi perpanjangan tangan kepentingan elite.

Di titik itulah oligarki bekerja bukan selalu dengan membeli suara rakyat, tetapi dengan membeli akses kepada mereka yang mampu mengorganisasi suara rakyat.

Karena itu, tantangan terbesar ormas hari ini bukan sekadar memperbesar jumlah anggota.

Tantangannya adalah menjaga independensi.

Editor : Editor
PWI SumbarHJK Padang 357 - JPSHJK Padang 357 - JPS 2HJK Padang 357 - FWP DPRD SumbarHJK Padang 357 - KI Sumbar
Bagikan

Berita Terkait
Terkini