Ormas dalam Pusaran Demokrasi Elektoral dan Politik Transaksional

Irdam Imran, Esei Resonansi. (Foto: Ist)
Irdam Imran, Esei Resonansi. (Foto: Ist)

Di sinilah demokrasi elektoral memiliki paradoks.

Pemilu memang menghasilkan legitimasi melalui suara rakyat. Tetapi setelah pemilu selesai, politik dapat berubah menjadi arena negosiasi elite. Partai politik membutuhkan jaringan sosial. Penguasa membutuhkan legitimasi. Pengusaha membutuhkan akses. Dan sebagian ormas membutuhkan sumber daya.

Maka terciptalah sebuah hubungan segitiga:

kekuasaan – modal – organisasi massa.

Jika hubungan tersebut tidak diawasi, demokrasi elektoral dapat berubah menjadi demokrasi yang dikuasai oleh mereka yang memiliki modal dan jaringan politik.

Oligarki Tidak Selalu Berwajah Pengusaha

Oligarki sering dipahami secara sederhana sebagai dominasi kelompok orang kaya. Padahal, oligarki bekerja lebih luas melalui penguasaan sumber daya dan akses terhadap keputusan politik.

Dalam ekosistem oligarki, yang penting bukan semata-mata siapa yang paling kaya, tetapi siapa yang mampu mengubah sumber daya menjadi pengaruh politik.

Ormas memiliki modal sosial: jumlah anggota, jaringan daerah, tokoh masyarakat, kemampuan mobilisasi dan legitimasi sosial.

Ketika modal sosial tersebut dipertukarkan dengan akses politik, maka organisasi masyarakat dapat menjadi bagian dari mesin oligarkis tanpa harus secara formal menjadi organisasi politik.

Editor : Editor
PWI SumbarHJK Padang 357 - JPSHJK Padang 357 - JPS 2HJK Padang 357 - FWP DPRD SumbarHJK Padang 357 - KI Sumbar
Bagikan

Berita Terkait
Terkini