Demokrasi harus memiliki etika.
Dan politik harus memiliki peradaban.
Sebab kita tidak ingin demokrasi Indonesia berhenti sebagai demokrasi elektoral—sekadar memilih pemimpin setiap lima tahun—tetapi kehilangan substansi demokrasi konstitusional dalam kehidupan sehari-hari.
Demokrasi bukan sekadar soal siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Demokrasi adalah bagaimana pemenang memperlakukan mereka yang kalah dan bagaimana mereka yang kalah tetap mendapatkan ruang untuk mengawasi serta mengkritik kekuasaan.
Dalam konteks itulah, pesan Ketua MPR RI Ahmad Muzani menjadi relevan.Namun, pesan tersebut akan jauh lebih kuat apabila pertama-tama dipraktikkan oleh elite kekuasaan sendiri.
Rakyat akan meniru teladan kekuasaan.
Jika kekuasaan menunjukkan kedewasaan, masyarakat akan belajar kedewasaan.
Jika kekuasaan menghargai kritik, masyarakat akan belajar menghargai perbedaan.
Editor : Editor



