Oleh : Two Efly, Wartawan Ekonomi/Penulis Buku Seven Summit West Sumatra
Tidak banyak yang menyadari bahwa sebuah gunung bukan hanya menghasilkan mata air, udara bersih, dan panorama indah. Di balik setiap langkah pendaki menuju puncak, sesungguhnya mengalir denyut ekonomi yang menghidupi masyarakat. Gunung bukan sekadar destinasi wisata, melainkan investasi alam yang mampu menciptakan lapangan kerja, menggerakkan usaha kecil, dan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi daerah.
Gunung bukan sekadar bentang alam yang menjulang tinggi. Di balik puncaknya yang diselimuti kabut, tersimpan pelajaran tentang ketekunan, keberanian, dan penghormatan kepada alam. Gunung mengajarkan manusia untuk tidak sombong, karena setinggi apa pun seseorang melangkah, alam selalu memiliki cara mengingatkan bahwa manusia hanyalah tamu.
Gunung tidak hanya menyimpan nilai filosofis. Gunung juga merupakan aset ekonomi yang luar biasa. Selain menjadi paru-paru bumi, daerah tangkapan air, habitat keanekaragaman hayati, dan laboratorium alam, gunung juga menjadi magnet wisata yang mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
Di berbagai belahan dunia, wisata pendakian atau mountaineering tourism telah berkembang menjadi industri bernilai miliaran dolar. Ribuan bahkan jutaan orang rela menempuh perjalanan jauh demi berdiri beberapa menit di sebuah puncak. Mereka datang bukan sekadar mengejar ketinggian, melainkan mencari pengalaman, tantangan, dan kepuasan batin.
Lihatlah Gunung Rinjani di Lombok yang setiap tahun dipadati pendaki. Tengok pula Gunung Kilimanjaro di Tanzania, Aconcagua di Argentina, Elbrus di Rusia, hingga Everest di Pegunungan Himalaya. Semua gunung tersebut telah berkembang menjadi destinasi wisata dunia yang menghidupi ribuan keluarga.Pendaki yang ingin mencapai Everest, misalnya, harus menyiapkan biaya yang bisa mencapai lebih dari Rp1 miliar untuk satu kali ekspedisi. Dana sebesar itu mengalir ke berbagai sektor, mulai dari maskapai penerbangan, hotel, penyedia logistik, operator ekspedisi, penyewaan perlengkapan, pemandu, porter, hingga masyarakat lokal.
Di Indonesia skalanya memang berbeda, tetapi pola ekonominya sama. Seorang pendaki rata-rata menghabiskan dana sekitar Rp2,5 juta hingga Rp5 juta untuk satu perjalanan, tergantung lokasi dan lama pendakian. Uang tersebut tidak berhenti di pintu masuk kawasan wisata, melainkan berputar ke berbagai lapisan ekonomi masyarakat.
Inilah yang disebut multiplier effect. Satu orang pendaki mampu menghidupkan banyak usaha sekaligus. Mulai dari transportasi, penginapan, rumah makan, toko kelontong, penyewaan alat, jasa pemandu, porter, fotografer, hingga pelaku UMKM yang menjual cendera mata.
Karena itu, jangan pernah memandang remeh nilai ekonomi wisata pendakian. Gunung sesungguhnya merupakan mesin pertumbuhan ekonomi yang terus bekerja sepanjang dikelola dengan baik. Di Gunung bisa tertumpang banyak harapan dan peluang untuk menghidupi rumah tangga.
Editor : Editor