Pada akhir pekan biasa, jumlah pendaki berkisar antara 500 hingga 700 orang. Saat libur panjang, jumlahnya meningkat tajam. Bahkan pada momentum peringatan Hari Kemerdekaan, pendaki dapat mencapai sekitar 2.300 hingga 2.500 orang dalam beberapa hari.
Besarnya jumlah kunjungan tersebut berarti besar pula perputaran uang di kawasan sekitar gunung. Pendapatan mengalir dari biaya registrasi yang menjadi pemasukan nagari, jasa ojek menuju pintu pendakian, warung makan, penginapan, toko logistik, penyewaan perlengkapan, pemandu, porter, hingga pelaku UMKM.
Jika rata-rata seorang pendaki membelanjakan sekitar Rp350.000 selama satu kali pendakian, maka ketika terdapat 2.500 pendaki, uang yang beredar mencapai sekitar Rp875 juta hanya dalam satu momentum.
Itu baru terjadi di satu gunung dan dalam satu periode liburan. Bayangkan apabila tujuh gunung favorit di Sumatera Barat dikelola secara profesional, dipromosikan secara berkelanjutan, serta didukung infrastruktur dan pelayanan yang baik. Sangat mungkin nilai perputaran ekonomi wisata pendakian mencapai ratusan miliar rupiah setiap tahun. Potensi itu nyata. Tinggal bagaimana kita mengelolanya.
Saatnya Berbenah
Sudah saatnya para pemangku kepentingan memandang gunung bukan hanya sebagai bentang alam, melainkan sebagai aset ekonomi daerah yang harus dijaga dan dikembangkan.
Pemerintah daerah, pemerintah nagari, pengelola kawasan konservasi, pelaku usaha, komunitas pecinta alam, dan masyarakat perlu duduk bersama membangun ekosistem mountaineering tourism yang profesional.
Standar keselamatan harus diperkuat. Jalur pendakian perlu ditata. Rambu dan informasi harus diperbanyak. Sistem registrasi dapat didigitalisasi. Pemandu dan porter perlu mendapatkan sertifikasi kompetensi. Tim pencarian dan penyelamatan (search and rescue) harus diperkuat. Promosi wisata harus dilakukan secara berkelanjutan dengan tetap mengedepankan prinsip kelestarian lingkungan.Rinjani telah membuktikan bahwa wisata pendakian mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Kilimanjaro bahkan menjadi tulang punggung ekonomi pariwisata Tanzania. Tidak ada alasan Sumatera Barat tidak mampu melakukan hal yang sama.
Apalagi daerah ini memiliki kekayaan alam yang luar biasa melalui tujuh gunung utama yang kini dikenal luas lewat program Seven Summit West Sumatera. Sago (2.272 mdpl), Tandikek (2.438 Mdpl), Talang (2.597 mdpl), Singgalang (2.877 mdpl), Marapi (2.891 mdpl), Talamau (2.982 mdpl) dan Kerinci (3.805 mdpl).
Gunung gunung itu akan tetap berdiri kokoh hingga ratusan bahkan ribuan tahun mendatang. Pertanyaannya, apakah kita hanya akan memandanginya sebagai panorama, atau menjadikannya sumber kesejahteraan yang dikelola secara bijaksana?
Editor : Editor