Oleh: Gilang Gardhiolla Gusvero, Sekretaris Jaringan Pemred Sumbar
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan kondisi yang patut menjadi perhatian serius bagi Sumatera Barat.
Di tengah narasi bahwa ekonomi daerah masih tumbuh positif, sejumlah indikator justru menunjukkan posisi Sumbar semakin tertinggal dibandingkan provinsi-provinsi lain di Pulau Sumatera.
Persoalannya, bukan terletak pada ada atau tidaknya pertumbuhan. Yang menjadi persoalan adalah kecepatan pertumbuhan tersebut tidak mampu mengimbangi laju daerah lain. Akibatnya, jarak ketertinggalan relatif terus melebar dari waktu ke waktu.
Setidaknya terdapat empat tekanan utama yang saat ini dihadapi Sumbar secara bersamaan, yakni pertumbuhan ekonomi yang melambat, tingkat kesejahteraan yang masih rendah, investasi yang tertinggal, serta kapasitas fiskal daerah yang semakin terbatas.
Pertumbuhan Ekonomi Tumbuh, Tetapi Tidak Cukup Cepat
Pada 2023, ekonomi Sumbar tumbuh 4,62 persen. Angka tersebut turun menjadi 4,36 persen pada 2024, sementara ekonomi nasional masih mampu tumbuh 5,03 persen.
Kondisi serupa kembali terlihat pada Triwulan II 2026. Ekonomi Sumbar tumbuh 4,54 persen secara tahunan (year on year), lebih rendah dibanding median pertumbuhan provinsi-provinsi di Sumatera yang mencapai 5,06 persen dan nasional sebesar 5,29 persen.Pada Semester I 2026, pertumbuhan kumulatif Sumbar tercatat 4,77 persen. Secara nominal, capaian tersebut memang lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Namun, provinsi lain justru melaju lebih cepat sehingga posisi relatif Sumbar semakin tertinggal.
Fakta bahwa Sumbar berada di peringkat kedelapan dari sepuluh provinsi di Sumatera dalam pertumbuhan ekonomi Triwulan II 2026 menunjukkan bahwa pertumbuhan yang terjadi belum cukup kuat untuk mengejar daerah-daerah lain.
Dalam konteks persaingan antarwilayah, tumbuh positif saja tidak lagi cukup. Pertumbuhan harus mampu melampaui rata-rata agar ketertinggalan dapat diperkecil.
Editor : Editor