Kepemimpinan Perempuan Politik di Indonesia

oleh -63 views
Difa Ghassani, Mahasiswa FISIP UNAND. (dok)

Oleh: Difa Ghassani
Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Andalas

PADA kehidupan sosial, perempuan dan laki–laki tentu saja berbeda. Di mana kodratnya laki–laki lebih unggul dibandingkan perempuan. Stigma masyarakat mengenai perempuan masih sama yaitu, perempuan identik dengan urusan rumah dan dapur dan urusan memimpin atau hal yang lebih diatas identik dengan laki–laki.

Sebenarnya perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan laki-laki, contohnya saja dalam hal memimpin, perempuan bisa saja menjadi pemimpin. Stigma dari masyarakat itulah membuat perempuan menjadi tidak percaya diri untuk menjadi pemimpin maupun berpatisipasi didalam politik.

Perempuan memiliki kekuatan yang lebih sedikit dibandingkan laki–laki. Tetapi dengan adanya kemajuan di zaman sekarang perempuan dan laki–laki dapat bekerja di bidang yang sama, dengan kata lain perempuan mempunyai kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya dalam memimpin maupun terjun ke dalam politik.

Kepemimpinan selalu identik dengan laki-laki, jarang sekali perempuan menjadi pemimpin dalam berbagai bidang terutama di bidang politik. Mengingat penampilan, ideologi serta cara berfikir perempuan sangat berbeda dengan laki–laki. Tetapi itu semua dapat disingkiri dengan prestasi dan keterampilan yang dimiliki perempuan.

Tujuan perempuan dan laki–laki dalam hal memimpin yaitu sama, hanya saja keunggulan laki–laki tersebut menjadi nilai untuk menjadi seorang pemimpin dibandingkan dengan perempuan.

Kepemimpinan dapat diartikan sebagai masalah kekuasaan dan tanggung jawab di mana seorang pemimpin mempunyai rasa tanggung jawab yang besar. Kepemimpinan seorang perempuan dapat dilihat dari ambisi dan bentuk kedewasaannya dalam menyelesaikan masalah, tanpa meninggalkan sifat kewanitaannya. Lain halnya dengan kepemimpinan menurut agama. Islam lebih mengutamakan laki–laki yang menjadi pemimpin karena dapat bertanggung jawab layaknya menjadi kepala rumah tangga.

Kualitas dan Kelayakan Pemimpin Perempuan Politik di Indonesia

Perempuan sebagai pemimpin mempunyai banyak hambatan baik itu berasal dari masyarakat maupun budaya. Dilihat dari fisiknya laki–laki lebih mampu mempin dibandingkan dengan perempuan.

Untuk dapat menjadi seorang pemimpin bagi perempuan tidaklah mudah, karena kemanpuan yang terdapat di dalam diri perempuan ditunjang melalui latar belakang pendidikan yang menjadi nilai dasar kepemimpinan.

Nilai dasar tersebut sebagai arah untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Apabila perempuan bisa menjalankan nilai dasar tersebut, maka dalam hal kepemimpinan perempuan dan laki–laki sama, tidak ada bedanya. Kepemimpinan perempuan juga memiliki porsi yang jelas dalam keikutsertaannya sebagai pemimpin membangun bangsa dan negara.

Di dalam politik sendiri, jarang sekali ditemui perempuan ikut berpatisipasi dalam politik, apalagi perempuan menjadi pemimpin di dalam politik. Perempuan di Indonesia mempunyai peran penting di dalam politik, bukan hanya sekedar berpatisipasi saja tetapi suara perempuan sangat berarti didalam politik. Partisipasi perempuan di dalam politik bukan hanya sekedar pelengkap saja tetapi perempuan berperan aktif didalam pengambilan keputusan. Perempuan mempunyai kelayakan di dalam menjadi pemimpin politik, karena sedikitnya perempuan yang terlibat didalam politik menjadi ajang bagi perempuan untuk bisa baju menjadi pemimpin. Perempuan juga mempunyai kualitas yang bagus untuk menjadi pemimpin, karena perempuan mempunyai pemikiran yang unik, mempunyai latar pendidikan yang bagus dan dapat menyelesaikan masalah serta bertanggung jawab layaknya seorang laki-laki menjadi pemimpin.

Minimnya keterwakilan perempuan sebagai pemimpin di dalam politik, membuat institusi kurang memiliki sudut pandang perempuan dan hal tersebut akan berdampak pada kesetaraan gender.

Di dalam politik perempuan dan laki – laki mempunyai kesempatan yang sama untuk memimpin, contohnya dalam Megawati menjadi satu–satunya perempuan yang menjadi Presiden di Indonesia. Selanjutnya RA Kartini yaitu mempunyai teladan yang penting bagi perempuan Indonesia. Beliau menjunjung dan memperjuangkan hak – hak perempuan, sehingga perempuan mempunyai sifat yang demokratis dan rasa kepeduliaan yang tinggi.

Realisitisnya saja perempuan bisa menjadi pemimpin politik di Indonesia karena jumlah perempuan lebih baik dibandingkan jumlah laki–laki. Partisipasi perempuan didalam politik dapat mencegah kondisi yang tidak menguntungkan bagi perempuan dalam hal stereotip terhadap perempuan.

Perempuan mempunyai keahlian dan kompetisi dalam memimpin negara. Hal lain yang bisa dikatakan perempuan mempunyai kelayakan didalam memimpin didalam politik yaitu perempuan pemimpin mempunyai konsep diri yang positif dan perempuan bisa membangun citra diri mereka yang positif dan baik.

Perempuan pemimpin juga memiliki sifat yang mempunyai keyakinan yang kuat dan rata – rata perempuan mempunyai sifat – sifat tersebut. Perempuan mempunyai kualitas yang bisa menjamin dirinya bisa menjadi seorang pemimpin. Buktinya saja banyak prestasi dan keterampilan yang diraih oleh perempuan, membuktikan perempuan memiliki banyak kesamaan dengan laki–laki.

Kemampuan tersebutlah yang membuat perempuan memiliki peran ganda yaitu menjadi wanita karier dan menjadi wanita rumah tangga berserta tanggung jawabnya. Kepemimpinan perempuan dapat dilihat dari ambisinya maupun kesuksesannya dalam membuat stigma masyarakat terhadap dirinya yang menganggap perempuan hanya bekerja dirumah saja.

Kepemimpinan politik perempuan di Indonesia memiliki dampak yang sangat berpengaruh karena didalam politik saja perempuan sangat dibutuhkan, apalagi perempuan menjadi salah satu pemimpin dibidang politik. Tetapi itu semua kembali lagi dengan stigma masyarakat dan partisipasi perempuan didalam politik, faktor–faktor yang membuat perempuan tidak mau terjun didalam dunia politik harus dihindari karena itulah yang membuat perempuan menjadi tidak mau terjun kedunia politik.

Perempuan memiliki keistimewaan dimana perempuan bisa menjadi pemimpin dan bisa juga sebagai ibu rumah tangga yang mengurus rumah dan dapur, tanggung jawab seperti itulah yang tidak dimiliki oleh laki-laki.(analisa)