Namun, halaman laba terakhir memberi gambaran berbeda. EAT margin, atau laba setelah pajak dibandingkan pendapatan, HighPeak sebesar minus 9,25%, di bawah median pembanding positif 9,69%. Artinya, selama semester itu HighPeak masih mencatat rugi bersih. Riley, Magnolia, dan PrimeEnergy menghasilkan laba, sementara Ring juga rugi. Kekuatan pada EBITDA belum berakhir menjadi laba bersih.
Sutan lalu memeriksa utang. DER HighPeak mencapai 0,77 kali, di atas median pembanding 0,31 kali, bahkan lebih tinggi daripada keempat perusahaan pembanding.
DER di sini membandingkan pokok utang berbunga dengan modal menurut pembukuan. Sederhananya, setiap USD1 modal menopang sekitar USD0,77 utang berbunga. Semakin besar utang terhadap modal, semakin besar pula beban pembiayaan yang perlu diperhatikan.
Terakhir, current ratio HighPeak sebesar 0,87 kali, di bawah median pembanding 1,01 kali. Ukuran ini membandingkan aset lancar dengan kewajiban jangka pendek.
Untuk setiap USD1 tagihan jangka pendek, HighPeak memiliki sekitar USD0,87 aset lancar, seperti kas dan tagihan kepada pelanggan. Aset itu belum seluruhnya berupa uang tunai. Posisinya di atas Riley dan Ring, tetapi di bawah Magnolia dan PrimeEnergy.
Empat ukuran ini menunjukkan: HighPeak unggul terhadap median pada EBITDA margin, tetapi tertinggal pada laba bersih dan current ratio, sementara DER-nya paling tinggi dalam kelompok. Kondisi ini belum memberi dasar untuk menyebut HighPeak lebih aman secara menyeluruh. Atas hal ini, Sutan perlu membaca seluruh buku usaha lebih detail lagi sambil mengerutkan dahi sebelum merasa lebih tenang.Tawaran 10%: Sudah Sepadan dengan Risikonya?
Sutan meletakkan cangkir kopinya. Angin dari pintu kedai menggerakkan ujung lembar perjanjian, tetapi pikirannya masih tertahan pada angka 10%. Ia sudah memahami cara menghitung hasilnya. Kini ia ingin tahu: cukup pantaskah bagian itu untuk risiko yang ditanggungnya?
Dalam perusahaan dan kondisi yang sebanding, logikanya, pemegang saham biasa umumnya meminta hasil lebih tinggi daripada pemegang saham preferen. Pemegang preferen pun biasanya meminta hasil lebih tinggi daripada pemberi pinjaman. Ibarat antrean pembagian sisa harta bengkel, semakin belakang kedudukan seseorang, semakin besar risiko modalnya tidak kembali.
Untuk menimbangnya, saya menggunakan skenario biaya modal dengan basis tanggal penilaian 30 Juni 2026. Perhitungan dimulai dari imbal hasil surat utang pemerintah AS, atau Treasury, sebesar 4,91% sebagai proksi tingkat bebas risiko. Acuan ini dipakai untuk menaksir biaya modal saham biasa.