Danantara Investasi di Amerika: Untung atau Buntung?

Foto Rio Eka Putra, MAPPI (Cert.)
Ilustrasi Danantara Investasi di Amerika: Untung atau Buntung?

Risiko kemudian diperhitungkan melalui beta, yaitu ukuran kepekaan terhadap gerak pasar. Saya menggunakan data Damodaran dari NYU Stern untuk 142 perusahaan eksplorasi dan produksi migas AS. Beta sektor tanpa pengaruh utang sebesar 0,56 disesuaikan dengan struktur pendanaan HighPeak, sehingga menjadi sekitar 1,15506. Ibarat dua bengkel dengan kegiatan serupa, perbedaan beban utang membuat risiko yang dipikul pemiliknya juga berbeda.

Berikutnya adalah premi risiko pasar, atau ERP: tambahan hasil yang diminta investor karena memilih saham yang berisiko. Data Damodaran mencatat ERP 4,30%. Dengan rumus CAPM, tingkat bebas risiko ditambah beta dikalikan premi risiko pasar. Perhitungannya adalah: Ke = 4,91% (1,15506 × 4,30%) = 9,88% Hasilnya disebut biaya modal saham biasa, atau Ke, yaitu estimasi imbal hasil yang disyaratkan investor saham biasa.

Perusahaan juga memakai uang pinjaman. Proksi biaya utangnya, atau Kd, sebesar 7,90%, berasal dari 4,91% ditambah spread kredit obligasi kelompok Single-B sebesar 2,99 poin persentase. Spread adalah tambahan hasil untuk menanggung risiko kredit. Angka ini merupakan pendekatan dari kelompok obligasi, bukan bunga pinjaman HighPeak yang diobservasi langsung.

Dengan tarif pajak badan federal AS 21% dan asumsi penghematan pajak atas bunga dapat dimanfaatkan, biaya utang setelah pajak menjadi sekitar 6,24%.

Dalam skenario yang sama, biaya saham biasa dan biaya utang dirata-ratakan menurut porsi masing-masing dalam pendanaan HighPeak. Hasilnya adalah WACC sekitar 7,79%. WACC berarti rata-rata tertimbang biaya modal perusahaan.

Ibarat Sutan menghitung biaya seluruh uang yang dipakai bengkel, ia memperhitungkan uang pemilik dan uang pinjaman sesuai besar bagiannya. Struktur modal yang digunakan adalah sebelum transaksi Danantara.

Secara angka, IRR penebusan 10% melampaui Ke 9,88%, WACC 7,79% dan kd setelah pajak 6,24%. Jadi, tawaran itu berada di atas Risiko pemegang saham biasa, Risiko tertimbang Pemilik modal dan Risiko pemberi pinjaman.

Namun, perbandingan tersebut belum membuktikan kewajaran saham preferen. Ke, kd dan WACC merupakan estimasi biaya modal, sedangkan IRR 10% bergantung pada terlaksananya pembayaran sesuai kontrak.

Sutan memberi stabilo pada catatannya. Ia telah melihat posisi angka 10% terhadap biaya modal. Sekarang ia ingin menengok kesepakatan investor lain: berapa hasil yang mereka peroleh, berapa lama mereka menunggu, dan apakah mereka juga mempunyai hak meminta uang kembali?

Pemilihan pembanding mengacu pada prinsip ASA SBVS-2 bagian II.C, yang mengutamakan transaksi dalam industri sama dan membuka penggunaan pembanding dengan karakteristik investasi relevan ketika informasi belum mencukupi.

Banner Ultah Golkar 20
Bagikan

Opini lainnya
Terkini