Meski demikian, banyak pengamat menilai kemungkinan kudeta militer klasik di Indonesia modern relatif kecil.
Reformasi 1998 telah mengubah hubungan sipil dan militer secara signifikan. TNI tidak lagi berada dalam posisi dominan seperti masa lalu. Selain itu, sistem politik internasional saat ini juga tidak memberi ruang besar terhadap perebutan kekuasaan secara terbuka melalui kekuatan militer.
Namun kekhawatiran publik saat ini bukan hanya mengenai kudeta dalam pengertian klasik.
Yang dinilai lebih berbahaya justru pelemahan demokrasi yang berlangsung secara perlahan dan sistematis.
Misalnya melalui penguasaan institusi negara, manipulasi opini publik, kriminalisasi politik, pelemahan oposisi, atau konsolidasi kekuasaan yang terlalu dominan.
Dalam kondisi seperti itu, demokrasi memang tetap terlihat berjalan secara formal, tetapi substansinya perlahan mengalami penurunan.Fenomena tersebut semakin terlihat di era digital ketika media sosial menjadi arena utama pertarungan politik nasional.
Buzzer politik, influencer, survei elektabilitas, hingga propaganda digital kini menjadi instrumen penting dalam membentuk persepsi publik.
Akibatnya, politik lebih banyak bergerak di ruang citra dibanding ruang gagasan.
Yang kuat bukan selalu yang paling benar, tetapi yang paling mampu mengendalikan narasi.
Editor : Editor

