Dari Ranah Minang, Enam Srikandi Membuka Jalan Polisi Wanita Indonesia

Irdam Imran. (Foto: Ist)
Irdam Imran. (Foto: Ist)

Dalam suasana itulah pendidikan calon Polisi Wanita dimulai.

Kelahiran Polwan tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan nyata di lapangan.

Polisi menghadapi situasi yang membutuhkan keterlibatan perempuan: pemeriksaan terhadap perempuan, perlindungan perempuan dan anak, serta berbagai persoalan sosial yang tidak selalu dapat ditangani secara optimal oleh polisi laki-laki.

Tetapi kebutuhan itu sekaligus melahirkan perubahan sosial.

Perempuan yang mengenakan seragam polisi berarti perempuan memasuki ruang publik dengan kewenangan negara.

Sebuah ruang yang pada masa itu masih sangat kuat didominasi laki-laki.

Karena itu, enam perempuan tersebut sesungguhnya sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar mengikuti pendidikan kepolisian.

Mereka sedang menembus batas zaman.

Enam Srikandi dari Bukittinggi

Mereka menjalani pendidikan dalam situasi yang jauh dari kata mudah.

Agresi Militer Belanda II pada akhir 1948 mengganggu proses pendidikan. Perjuangan bersenjata kembali menjadi kenyataan.

Editor : Editor
Banner JMSI 2026
Bagikan

Berita Terkait
Terkini