Demokrasi bukanlah perlombaan siapa yang paling keras berbicara. Demokrasi adalah kemampuan untuk mendengar suara yang berbeda, termasuk suara yang mengkritik kekuasaan.
Kita membutuhkan Presiden yang kuat, tetapi sekaligus membutuhkan parlemen yang kuat. Kita membutuhkan pemerintahan yang efektif, tetapi juga membutuhkan mekanisme checks and balances yang bekerja. Kita membutuhkan pembangunan nasional, tetapi pembangunan tersebut harus berjalan seiring dengan keadilan bagi masyarakat dan daerah.
Sebab kesejahteraan rakyat tidak lahir semata-mata dari kerasnya pidato politik.
Kesejahteraan lahir ketika kebijakan negara benar-benar menyentuh kehidupan rakyat.
Keadilan tidak lahir hanya dari slogan.
Keadilan lahir ketika kekuasaan bersedia mendengar.Maka peringatan Hari Radio Republik Indonesia seharusnya menjadi momentum untuk menghidupkan kembali filosofi radio sebagai suara perjuangan dan suara rakyat.
Teknologi boleh berubah. Media boleh berganti. Pemerintahan boleh berganti. Tetapi semangat Republik tidak boleh berubah: kekuasaan harus tunduk kepada konstitusi dan bekerja untuk kepentingan rakyat.
Pada akhirnya, suara Senator, suara legislator dan suara rakyat bukanlah gangguan terhadap suara Presiden. Mereka justru merupakan resonansi yang membuat suara Republik menjadi utuh.
Sebab Republik yang sehat bukan republik yang hanya memiliki suara paling keras, melainkan republik yang mampu mendengar suara paling jauh, suara paling kecil, dan suara masyarakat di daerah yang paling membutuhkan keadilan dan kesejahteraan.
Editor : Editor
