Oleh: Irdam Imran
Ada kota yang dikenang karena jamnya.
Ada kota yang dikenang karena alamnya.
Ada kota yang dikenang karena tokoh-tokohnya.
Tetapi ada pula kota yang menyimpan sejarah jauh lebih besar daripada yang terlihat oleh mata.
Bukittinggi adalah salah satunya.Jam Gadang memang menjadi penanda waktu. Tetapi jauh sebelum kita sibuk menghitung waktu dengan jarum jam, Bukittinggi telah menjadi saksi bagaimana sebuah bangsa mempertahankan kemerdekaannya.
Dan di kota yang sama, sebuah sejarah lain dimulai.
Baca juga: Dari Merantau ke Brain Circulation: Mengubah Diaspora Minang Menjadi Kekuatan Pembangunan
Pada 1 September 1948, perempuan Indonesia mulai memasuki dunia kepolisian secara resmi.
Enam perempuan mengikuti pendidikan kepolisian di Sekolah Polisi Negara Bukittinggi. Mereka kemudian dikenal sebagai perintis Polisi Wanita Indonesia.
Editor : Editor