BUMNag Percontohan Nasional

Foto BUMNag Percontohan Nasional
Foto BUMNag Percontohan Nasional

Di Pakandangan, ada 150 hektare lahan tidur. Lahan itu terlantar karena banyak warganya yang merantau. Selain itu, masyarakat takut berladang karena takut gagal panen. Akhirnya BUMNag menyewa lahan pertahun. Diolah melalui pengelolaan BUMNag.Pemilik lahan yang sudah menerima sewa, dilibatkan untuk menggarap hingga panen. Selama proses menggarap hingga panen, mereka menerima bagi hasil. Bayangkan; lahannya disewa, mereka dipekerjakan di lahan yang disewa dan menerima upah dari pekerjaannya. Saat panen, menerima bagi hasil pula. Benar-benar luar biasa!

Kini, sudah delapan hektare lahan tidur masyarakat yang disewa, sebanyak 3,5 hektare sudah ditemani jagung. Panen perdana bulan depan. Sisanya belum bisa kami garap karena terbentur modal awal. Setiap hektare dibutuhkan anggaran Rp 20 juta untuk persiapan lahan hingga panen.Pengelolaan pertanian jagung tersebut merupakan salah satu dari tiga unit usaha yang dilakukan Bumnag Pakandangan Emas. Usaha lain adalah Unit Simpan Pinjam Syariah dan Bank Sampah.

Produk simpan pinjam syariah dalam bentuk tabungan haji, tabungan akikah, tabungan nikah, tabungan Idul Fitri dan tabungan pendidikan. Tak satu pun dikenakan biaya pendaftaran atau administrasi, sehingga tak satu-sen pun uang masyarakat yang berkurang. Selama empat bulan berjalan, sudah ada 240 orang yang menyimpan di BUMNag tersebut. Total tabungannya mencapai Rp 170 juta.Unit Bank Sampah juga sudah menghasilkan Rp 2 juta sebulan. BNI kemudian bersedia memberikan bantuan berupa mesin pengolah plastik. Ada rencana luar biasa lagi. Rencanya plastik tersebut akan diolah menjadi minyak tanah dan fapping blok.

Apalagi yang istimewa dari keberhasilan BUMNag Pakandangan Emas ini menjadi salah satu BUMDes Percontohan Nasional? Dua hal paling menonjol. Pertama, orientasi kepada sosial benefit, bukan profit oriented. Catat, manfaat sosial bagi lingkungan lebih bernilai guna dibanding yang lain. Multiflayer-effeknya lebih terasa. Kehadiran BUMDes ditujukan untuk lebih menggerakkan lingkungan sosial dimana BUMDes tersebut berada.Kedua, yang satu ini, sosok sentral. Namanya, H.Febby Datuk Bangso. Anak muda asal Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ini menjadi aktor penting di balik BUMDes se Indonesia. Ini menjabat sebagai Ketua Forum BUMDes Indonesia. Selama ini berperan mendorong kesuksesan sejumlah BUMDes di Indonesia. Beruntung sekali Sumbar memiliki sosok sekaliber dan innover Febby Dt Bangso ini.

Pada banyak kesempatan, ia sering menyampaikan kerisauannya kepada saya. Salah satu obsesi besar yang dimilikinya; mendorong dan menggerakkan agar BUMNag di kampung halamannya, Sumatera Barat, bisa berkembang, bergerak dan berdayaguna bagi lingkungannya. Menjadi percontohan bagi BUMDes di tanah air.Awalnya, ketika saya hadir di BUMNag Pakandangan Emas, saya menduga kalau orang yang biasa saya panggil Datuk Febby ini akan terlihat senang dan berbunga-bunga. Tapi, saya melihat ia justru biasa saja. Saya heran.

“Harus ada yang lain,” katanya ketika saya tanya.Obsesinya sangat besar. Tidak. Ia memberikan ilustrasi kepada saya, jika ada banyak BUMNag di Sumbar yang bisa jadi percontohan BUMDes di tingkat nasional, maka pada saatnya nanti Sumbar akan memiliki agenda kunjungan kerja, belajar sambil wisata. BUMNag Percontohan Nasional akan menjadi “destinasi” untuk belajar bagi puluhan ribu BUMDes, dinas, lembaga pendidikan dan penelitian, sehingga paket perjalanannya bisa disingkronkan dari BUMNag yang satu ke lainnya. Tentu akan menambah kunjungan ke Ranah Minang.

Oh, luar biasanya!*(analisa)

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner InfografisBanner - Gor
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini