Berebut Suara di Komunikasi “Perang Terbuka”

Foto Berebut Suara di Komunikasi “Perang Terbuka”
Foto Berebut Suara di Komunikasi “Perang Terbuka”

Seorang tokoh Islam mengatakan, hukuman mati dibenarkan bagi kejahatan mencabut nyawa sesama bila keluarga korban tidak memaafkannya. Ancaman hukuman yang keras tak lain demi terpeliharanya ketertiban masyarakat.Tetapi apa kata tukang becak?

“Itu bukan urusan saya, lebih penting urusan perut,” katanya.Sikap apatis semacam itu, bukan tidak mungkin menjalar ke Pemilu 2019. Jika tidak diantisipasi sedini mungkin, akan berakibat buruk pada partisipasi masyarakat ke TPS. Sikap apatis tersebut bisa disebabkan oleh dua hal. Pertama, akibat ulah dan prilaku pendukung pasangan Capres dan Cawapres. Kedua, ketidaksiapan KPU.

Ulah prilaku pendukung pasangan Capres dan Cawapres sudah dibahas di atas. Komunikasi tidak simpatik yang dipertontonkan kepada publik, membuat masyarakat umum menjadi menghindar. Masyarakat sudah muak untuk menonton tontonan buruk yang terjadi. Komunikasi yang tampak dipermukaan menjadi panduan awal bagi masyarakat.Ibarat hendak menyantap hidangan. Seberapa pun enaknya sebuah menu yang dihidangkan, jika saat penyajian ada lalat di atas hidangan tersebut, tentu akan mengurangi selera orang yang akan memakan. Orang akan meninggalkan menu tersebut.

Kesiapan KPU menjadi bagian penting untuk menarik minat masyarakat datang ke KPU. Data di KPU, Pemilu 2014, partisipasi pemilih pada Pemilu Legislatif 2014 mencapai 72 persen. Pemilu Presiden 2014 mencapai 69,58 persen, atau golput sebesar 30,42 persen. Pada Pemilu 2019, KPU hanya menargetkan 77.5 persen masyarakat menggunakan hak pilih. Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo meyakini hingga 80 persen. Partisipasi Pemilu 1955 yang mencapai 91.4 persen.Masih ada waktu bagi pasangan Capres dan Cawapres, pengurus partai, kader dan simpatisan partai untuk menggerakkan mesin partai. Mendorong semua komponen untuk semakin memahami arti dan pentingnya berkontribusi untuk bangsa, memberikan suara di TPS.

Tuduhan cebong atau kampret tidak akan menyelesaikan masalah, justru semakin menambah masalah baru. Tentu kita tak ingin, sikap skeptis si tukang becak, menanggapi hukuman mati bersamaan hukuman mati kepada Kusni Kasdut, menjadi sikap sebahagian besar masyarakat. Atau, penekanan diakhir pandangan John Done, terkait kegagalan komunikasi, terjadi di negeri ini. *(amalisa*Penulis adalah wartawan Harian Umum Rakyat Sumbar)

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner InfografisBanner - Gor
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini