Oleh: Gilang Gardhiolla Gusvero, Wartawan
Pagi di nagari selalu datang dengan cara yang sama. Suara azan dari surau menyapu udara, ayam berkokok dari halaman rumah, dan jalan kampung mulai hidup ketika terdengar langkah sang pejuang berangkat mencari nafkah. Dari luar, semuanya tampak seperti biasa. Tenang. Tertib. Seolah Minangkabau masih berdiri kukuh di atas adat dan agama yang selama ini dibanggakan.
Namun, di balik ketenangan itu, ada luka yang tak terlihat dari jalan raya.
Luka itu bersembunyi di dalam rumah.Rumah yang semestinya menjadi tempat seorang anak pulang, berlindung, dan merasa aman, justru berubah menjadi ruang yang paling menakutkan. Dua kasus ayah kandung yang menyetubuhi anaknya sendiri di Kecamatan Situjuah, Kabupaten Limapuluh Kota, bukan bagai kabar yang datang lalu pergi saja. Ia adalah alarm keras yang menampar kesadaran sosial kita.
Kita terlalu sering mengilaukan citra kampung sebagai ruang yang religius dan beradat, tetapi terlambat mendengar jerit yang tumbuh di balik pintu rumah sendiri.
Editor : MS

