GOR HAS dan Kebanggaan Ranah Minang

Two Efly, Wartawan Padang Ekspres. (Foto: Ist)
Two Efly, Wartawan Padang Ekspres. (Foto: Ist)

Oleh: Two Efly, Wartawan Padang Ekspres

"Kemajuan sebuah daerah tidaklah diukur dari seberapa kuat ia mempertahankan bangunan lama, melainkan dari keberaniannya membangun warisan yang lebih baik bagi generasi yang akan datang."

Rabu, 29 Juli 2026, saya menikmati secangkir kopi di lapak darurat UMKM di kawasan GOR Haji Agus Salim, Padang. Dari tempat saya duduk, hanya berjarak belasan meter, suara excavator meraung memecah pagi. Satu demi satu dinding stadion yang telah berdiri lebih dari empat dekade itu roboh diterjang besi raksasa. Puluhan dump truck silih berganti mengangkut puing-puing beton, meninggalkan kawasan yang selama puluhan tahun menjadi saksi lahirnya begitu banyak kenangan.

Stadion itu mendadak tampak begitu lapang. Setelah tribun dibongkar, yang tersisa hanyalah hamparan rumput hijau yang beberapa tahun lalu kembali ditanam. Menara-menara lampu yang selama ini menjadi saksi ribuan pertandingan juga telah rebah menjadi tumpukan besi.

Pemandangan itu memang menyisakan rasa kehilangan. Namun bagi saya, pembongkaran ini bukanlah akhir dari sebuah sejarah. Justru di atas puing-puing itulah sejarah baru sedang dibangun.

Dalam tulisan ini saya tidak ingin membahas polemik relokasi pedagang ataupun dinamika politik yang mengiringi revitalisasi GOR Haji Agus Salim. Saya juga tidak bermaksud memperdebatkan setiap kebijakan yang diambil. Ada satu hal yang ingin saya garisbawahi: membangun kembali GOR Haji Agus Salim adalah sebuah kebutuhan.

Kebutuhan itu bukan hanya milik klub sepak bola, atlet, atau pecinta olahraga. Lebih dari itu, stadion ini adalah simbol kebanggaan masyarakat Sumatera Barat. Ia merupakan salah satu infrastruktur monumental yang dimiliki Ranah Minang, di tengah pembangunan berskala besar yang dalam beberapa dekade terakhir berjalan tidak secepat harapan masyarakat.

Warisan Tahun 1983

Tidak banyak yang mengetahui bahwa kawasan GOR Haji Agus Salim pada awalnya bukan dibangun sebagai stadion olahraga.

Kompleks ini lahir pada tahun 1983 ketika Kota Padang dipercaya menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XIII. Ribuan kafilah dari seluruh Indonesia berkumpul di kawasan Rimbo Kaluang untuk mengikuti berbagai cabang perlombaan. Perhelatan akbar tersebut bahkan dibuka langsung oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, Jenderal Besar Soeharto.

Usai MTQ, pemerintah menilai kawasan tersebut terlalu berharga jika hanya menjadi monumen sebuah kegiatan. Bangunan itu kemudian dialihfungsikan menjadi pusat olahraga.

Editor : Editor
Banner InfografisBanner - GorBanner Rahmat Saleh - Gema
Bagikan

Berita Terkait
Terkini