Karena itu, marilah kita memberi kesempatan kepada proses pembangunan ini berjalan sebagaimana mestinya. Biarkan kontraktor menyelesaikan pekerjaannya sesuai rencana. Mari kita kawal bersama agar setelah revitalisasi selesai, kawasan GOR Haji Agus Salim kembali hidup sebagai pusat olahraga, ruang publik, sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Janganlah kita melihat revitalisasi GOR Haji Agus Salim semata-mata dari bentuk atapnya, apakah bergonjong atau tidak. Jangan pula memandang setiap langkah pembangunan dengan prasangka bahwa selalu ada kepentingan tersembunyi di baliknya.
Yang lebih penting adalah manfaat yang akan dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.
Fakta menunjukkan bahwa GOR Haji Agus Salim memang membutuhkan pembaruan. Usianya telah melewati empat dekade. Selain dimakan waktu, fasilitas yang ada juga tidak lagi sepenuhnya mampu menjawab tuntutan perkembangan olahraga modern.
Saya percaya, bukan hanya saya, tetapi juga ribuan bahkan jutaan orang Minang, baik yang berada di ranah maupun di rantau, menaruh harapan besar terhadap wajah baru stadion ini.Kelak, ketika revitalisasi itu selesai, GOR Haji Agus Salim tidak lagi sekadar menjadi tempat pertandingan sepak bola atau arena olahraga. Ia akan menjelma menjadi ruang publik yang membanggakan, pusat aktivitas masyarakat, penggerak ekonomi kawasan, sekaligus simbol kemajuan Sumatera Barat.
Suatu hari nanti, ketika masyarakat memenuhi tribun stadion yang baru, mungkin kita akan tersenyum mengenang suara excavator yang pernah merobohkan bangunan lama. Sebab kita akan sadar, suara itu bukanlah bunyi kehancuran, melainkan bunyi kelahiran sebuah kebanggaan baru bagi Ranah Minang. (***)
Editor : Editor
