Tausyiah BUYA HMA, Menggali Potensi Surau Jadi islamic Center dan Perdaban

Buya H Masoed Abidin za Jabbar (foto: dok)
Buya H Masoed Abidin za Jabbar (foto: dok)

Kaum adat dan kaum agama bekerjasama saling bahu membahu membangun masyarakat.Perpaduan ini telah melahirkan harmoni sosial di bawah sistem *kepemimpinan tripartit yang disebut TTS _(Tungku nan Tigo Sajarangan)_ yang terdiri dari _Ninik Mamak , Alim Ulama, dan Cerdik Pandai._ Mereka bersinergi menjaga dan menjalankan TTS yang lain pula, _Tali nan Tigo Sapilin_, yaitu _Adat, Syari’at dan Peraturan_ (perundangan).*

Kesesuaian dan keserasian hubungan ini tak lain karena nilai-nilai adat Minang, yang digali dan dijalankan sebelum kedatangan Agama Islam, memiliki landasan yang sama dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadis.Misalnya, ketika, ayat Al-Qur’an yang pertama turun pada tanggal 17 Ramadhan di kota mekkah:

# Iqra bismirabbikallazi khalaq# Khalaqal insanamin ‘alaq

# Iqra’ warabbukal akram# Allazi ‘allama bil qalam

# ‘Alamal insaa namaa lam ya’lam.*_ Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan_*

*_Yang menciptakan manusia dari segumpal darah._**_Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah_*

*_Yang mengajar manusia dengan pena_**_Yang mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya._*

Jauh sebelum itu, para ninik mamak di ranah minang telah memberi petuah agar masyarakat Minang memahami dan mengikuti hakekat hukum alam (sunatullah), seperti petuah dibawah ini:Api, paneh dan mambaka,

Aie, mambasahi dan manyuburkan, Kayu, bapokok,

Ayam, bakokok, Kambiang, mangambiak,

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner Ultah Golkar 20
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini