BPJS KESEHATAN YANG TIDAK SEHAT, AGAR MENJADI SEHAT DENGAN MENYEHATKAN

Utama ZB
Utama ZB

Lingkungan manajemen yang kompleks, terbuka dan rentan terhadap perubahan eksternal, tidak lagi sesuai menjalankan sistem bersifat generik seperti aplikasi kerja umumnya.Gejala global berupa meningkatnya percepatan perubahan yang acak dan fluktuatif mengharuskan sistem dikembangkan berkesinambungan dari dalam dengan melibatkan seluruh pekerja. Mereka harus peka mendukung respon sistem kerja bagiannya dalam mendukung sistem kerja utuh keseluruhan bagian. Untuk itu pola kerjasama aplikasi sistem dengan pihak eksternal haruslah diimprovisasi.

Pelatihan khusus untuk membangun sistem non generik tersebut adalah pelatihan berbasis simulasi. Srivastava U.K., 1989 dalam Utama Z.B, 2010 menjelaskan tentang simulasi sebagai berikut:“Untuk menyelesaikan persoalan-persoalan bisnis yang kompleks dibutuhkan metoda analisa yang bisa mengatasi perubahan-perubahan yang acak pada pendekatan matematis suatu model, dikenal dengan metoda simulasi. Simulasi adalah teknik yang dipergunakan untuk pembuatan keputusan dibawah kondisi-kondisi ketidakpastian (berubah-ubah)”.

Manfaat teknik ini sejak 1994 sudah dirasakan perusahaan dalam dan luar negeri dengan nama Logic Simulation System (LSS), diperkenalkan di edisi perdana Jurnal Integritas KPK tahun 2015.Untuk bergerak lincah dan efektif dalam sistem yang kompleks, seluruh pekerja dilibatkan dalam pengendalian resiko proses yang akurat dan valid, secara sistematis terintegrasi. Sehingga sistem yang dibangun dapat bergerak dinamis mengikuti perubahan yang flutuatif dan acak, tanpa tergantung pihak luar.

Stimulus logika dalam pelatihan LSS mampu menciptakan tim kerja inovatif, terbukti dari pertumbuhan inovasi pekerja di satu perusahaan yang mencapai 20-ribu persen dalam setahun penerapannya, dengan keterlibatan seluruh pekerja. Hal ini tentu sangat dibutuhkan BPJS Kesehatan, mengingat kompleksnya masalah implementasi kebijakannya, serta masalah mendasar tentang defisit anggaran.Menggeser Fokus Strategi dengan Merubah Sasaran Strategi

Fokus keseimbangan neraca, “logikanya” tidak untuk diterapkan pada sesuatu yang tidak dikendalikan. Jumlah peserta yang sakit yang mempengaruhi neraca adalah hal yang tidak dikendalikan oleh BPJS Kesehatan, disebabkan sasaran strategisnya yang bersifat kuratif untuk bidangnya. Sasaran tersebut adalah menghindarkan masyarakat jatuh miskin karena sakit dengan memaksimalkan fasilitas kesehatan. Sasaran yang lebih tepat adalah membuat masyarakat lebih sehat dan produktif agar lebih sejahtera, Perubahan sasaran strategi ini membuat BPJS Kesehatan fokus mengendalikan jumlah peserta yang sakit, dengan dukungan perangkat undang-undang yang memadai.Terapan preventif secara detail diuraikan Ns. Rutmauli Hutagaol, S.Kep. dalam tulisannya Optimalisasi Pelayanan Preventif dan Promotif Peserta BPJS pada tahun 2017. Hal senada disampaikan menteri kesehatan pada tahun 2018, menjawab masalah penyakit jantung sebagai penyebab defisit anggaran terbesar BPJS Kesehatan. Beliau menyatakan sudah menjalankan program Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) untuk membangun kesadaran masyarakat akan pola hidup yang sehat, namun terkendala kesadaran masyarakat.

Memaksimalkan GermasDengan pergeseran arah sasaran strategis dan perubahan sistem kerja, BPJS Kesehatan akan efektif mensukseskan program Germas, dengan memaksimalkan fasilitasnya di Puskesmas secara inovatif. Selain menyediakan konsultasi dan evaluasi, juga disediakan sarana olah fisik dan mental, serta vitamin, herbal, buah dan sayuran yang baik bagi kesehatan. Lalu memaksimalkan sistem sosialisasi dan komunikasi untuk membangun “kebanggaan”, serta sistem reward bagi peserta, dan lain-lain.

Komunitas yang peduli akan kesehatan, akan membangun masyarakat yang malu jika sakit, sehingga perlahan anggaran BPJS dalam membangun komunitas sehat akan lebih besar dibanding mengobati yang sakit. Hal ini tentu diikuti beralihnya bisnis swasta dari mengatasi sakit menjadi bisnis membangun sehat.Saatnya kini BPJS Kesehatan ada di posisi strategis meningkatkan rakyat sehat, mengurangi rakyat sakit. Akan banyak yang mau bergotong-royong bagi bangsa jika solusinya kongkrit dan logis. Hentikan debat, dukung “pembaruan fokus” pada sistem dan strategi ini. Jadikan BPJS Kesehatan rumah bersama mendisain Indonesia Sehat ke depan. Wujudkan Jaminan Kesehatan yang menjamin rakyat selalu sehat.

ReferensiAmbaranie Nadia Kemala Movanita, Tahun 2017 BPJS Kesehatan Kelola Iuran JKN-KIS Rp 74,25 Triliun, (https://ekonomi.kompas.com/read/2018/05/16/152418526/tahun-2017-bpjs-kesehatan-kelola-iuran-jkn-kis-rp-7425-triliun) , diakses 6 Nopember 2018

Andri Donnal Putera, Ini Rincian Langkah Menutup Defisit BPJS Kesehatan, Home/Ekonomi/Makro (https://ekonomi.kompas.com/read/2018/10/29/171000926/ini-rincian-langkah-menutup-defisit-bpjs-kesehatan) , diakses 6 Nopember 2018Ruslan Tambak, Defisit BPJS Kesehatan Yang Harusnya Diperdebatkan, Bukan Istilah "Emak-Emak" (https://politik.rmol.co/read/2018/09/18/357873/Defisit-BPJS-Kesehatan-Yang-Harusnya, diakses 7 Nopember 2018

Ns. Rutmauli Hutagaol, S.Kep. Optimalisasi Pelayanan Preventif dan Promotif Peserta BPJS, https://indonesiana.tempo.co/read/120562/2017/12/18/rutmauli.ht.gaol/optimalisasi-pelayanan-preventif-dan-promotif-peserta-bpjs, diakses 11 Nopember 2018Ambaranie Nadia Kemala Movanita, Riset: BPJS Kesehatan Cegah Orang Miskin Makin Miskin Gara-gara Sakit, https://ekonomi.kompas.com/read/2018/05/16/154436026/riset-bpjs-kesehatan-cegah-orang-miskin-makin-miskin-gara-gara-sakit, diakses 11 nopember 2018

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner InfografisBanner - Gor
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini