Oleh: Two Efly, Wartawan Ekonomi
Jumat pagi, 14 Agustus 2026, saya menonton pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto di hadapan anggota MPR, DPR, dan DPD RI. Ada satu bagian yang menarik perhatian saya: apresiasi Presiden terhadap transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), khususnya kepada pimpinan Danantara Indonesia beserta seluruh tim dan jaringannya.
"Saya memberikan penghargaan khusus bagi pimpinan Danantara dan seluruh timnya, seluruh jaringannya," ujar Presiden Prabowo.
Apresiasi seorang presiden tentu bukan perkara kecil. Apalagi, pujian itu disertai alasan konkret. Presiden menyebut transformasi BUMN sepanjang 2025–2026 telah menghasilkan efisiensi keuangan negara melalui perampingan struktur, pengurangan biaya operasional, dan penyederhanaan organisasi.
Bagi saya, pernyataan itu sangat menarik. Selama bertahun-tahun, BUMN selalu berada di persimpangan persepsi. Di satu sisi, BUMN adalah aset strategis negara. Di sisi lain, sebagian BUMN pernah dibebani beragam persoalan: struktur yang gemuk, biaya operasional tinggi, aset kurang produktif, bahkan kinerja yang tidak sebanding dengan modal negara.
Benarkah BUMN sudah berubah? Mari kita buka datanya. Laporan pemerintah menunjukkan adanya lonjakan kinerja BUMN. Laba BUMN yang setelah penyesuaian tercatat sekitar Rp186 triliun pada 2024, meningkat menjadi sekitar Rp326 triliun pada 2025, atau melonjak sekitar 75,3 persen.Diperiode yang sama, dividen BUMN yang disetorkan kepada negara meningkat dari sekitar Rp85,5 triliun pada 2024 menjadi Rp142,3 triliun pada 2025, atau naik sekitar 67 persen.
Untuk 2026 pemerintah memproyeksikan dividen BUMN dapat mencapai sekitar Rp200 triliun tanpa PMN, sehingga kontribusi bersih BUMN kepada negara berpotensi semakin besar. Jika target tersebut terealisasi, perubahan itu tentu signifikan. BUMN tidak lagi sekadar dituntut bertahan hidup. BUMN dituntut mampu menghasilkan laba, membayar dividen, bekerja efisien, dan mengoptimalkan aset.
Mungkinkah tercapai? Semester pertama 2026, beberapa perusahaan mencatat pertumbuhan laba yang signifikan. Semen Indonesia, misalnya, membukukan kenaikan laba bersih sekitar 408,9 persen; Pupuk Indonesia 252,8 persen; Pertamina 86 persen; Pegadaian 84,4 persen; Pelindo 60,4 persen; dan PTPN sekitar 54,4 persen. PT Timah bahkan mencatat lonjakan laba bersih sekitar 804,7 persen.
Benar, angka tersebut tidak berarti seluruh BUMN sudah sehat. Namun setidaknya ada satu pesan penting: mesin transformasi mulai menghasilkan tenaga. Tenaga itu terlihat dari lompatan laba, efisiensi, produktivitas, dan kontribusi yang semakin besar kepada negara.
Editor : Editor



