Pasif Menjadi Produktif
Tanah, kawasan industri, pelabuhan, pembangkit listrik, perkebunan, tambang, properti dan berbagai aset BUMN tidak boleh hanya dilihat berdasarkan nilai bukunya.
Aset yang tidur harus dibangunkan. Aset produktif harus diperbesar. Aset yang tumpang tindih harus dikonsolidasikan. Aset yang tidak lagi strategis harus dievaluasi. Investasi yang tidak menghasilkan return memadai harus berani dihentikan atau direstrukturisasi.
Hilirisasi
Presiden juga menyebut pemerintah bersama Danantara telah memulai 26 proyek hilirisasi sepanjang 2026, antara lain pengolahan batu bara menjadi DME, hilirisasi tembaga dan emas, pengolahan garam industri, serta pembangunan smelter aluminium.
Ini menarik. BUMN tidak lagi hanya diposisikan sebagai perusahaan pencari keuntungan. BUMN juga menjadi instrumen negara untuk mengubah kekayaan alam menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Negara Memiliki Dua Tangan
Sebagai jurnalis ekonomi, saya melihat negara memiliki dua tangan untuk membangun bangsa.
Tangan pertama adalah pemerintah dengan APBN. Tangan kedua adalah badan usaha negara dengan BUMN.
APBN bekerja melalui belanja negara. BUMN bekerja melalui kegiatan usaha. APBN membangun daya beli dan pelayanan publik. BUMN membangun produksi, investasi, lapangan kerja, dan keuntungan.Negara yang kuat bukan hanya negara yang memiliki APBN besar. Negara yang kuat adalah negara yang mampu membuat kedua tangannya bekerja bersama-sama.
Apresiasi Tidaklah Garis Finish
Pidato Presiden 14 Agustus 2026 memberikan pesan penting: transformasi BUMN mulai membuahkan hasil. Apresiasi bukanlah garis finis. Justru sebaliknya, apresiasi adalah garis start untuk bekerja lebih keras.
Setelah efisiensi, berapa besar nilai tambah berikutnya? Setelah laba meningkat, apakah Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE) juga membaik? Setelah dividen meningkat, apakah aset BUMN semakin produktif?
Editor : Editor



