"Buah Manis" Transformasi BUMN

Two Efly, Wartawan Ekonomi. (Foto: Ist)
Two Efly, Wartawan Ekonomi. (Foto: Ist)

Danantara Membalik Keraguan

Ketika Danantara pertama kali dibentuk, tidak sedikit pihak yang menganggapnya sekadar pergantian casing. Ada yang skeptis, khawatir, bahkan menilai Danantara berpotensi menjadi kendaraan untuk menguras kekayaan negara.

Perdebatan itu wajar. Dalam demokrasi, pro dan kontra merupakan bagian dari proses pengawasan publik.

Waktu adalah penguji terbaik. Kini, setelah berjalan lebih dari satu tahun, Danantara mulai menunjukkan bentuk kerjanya. Bukan sekadar mengelola portofolio, tetapi juga melakukan restrukturisasi, konsolidasi, efisiensi, pembersihan neraca, dan optimalisasi aset.

Danantara juga mulai mengarahkan modal BUMN kepada kegiatan yang memiliki nilai tambah lebih besar.

BUMN "Sakit" Dibenahi

Inti transformasi BUMN terpantau runut dan detil. BUMN yang sakit dibenahi. Yang terlalu gemuk dirampingkan. Yang tumpang tindih dikonsolidasikan. Yang sehat diperkuat.

Aset yang selama ini menganggur didorong agar menghasilkan nilai ekonomi.

Data menunjukan, dari 1.074 BUMN yang pernah ada, sebanyak 290 perusahaan telah dilikuidasi. Jumlah BUMN akan terus dirampingkan agar perusahaan yang tersisa lebih sehat, gesit, fokus, dan mampu memaksimalkan potensi.

Ini bukan sekadar mengganti direksi. Bukan pula sekadar mengganti nama perusahaan. Ini adalah bedah struktur korporasi negara. Bedah korporasi seperti ini jelas merupakan kebijakan berani dan strategis untuk jangka panjang.

Dari Dividen menjadi Mesin Investasi

Di sinilah peran Danantara menjadi semakin strategis. Paradigma lama: BUMN menghasilkan laba, kemudian membayar dividen kepada negara. Kini paradigma itu bergeser. Laba dan dividen tetap menjadi sumber penerimaan negara, tetapi sebagian dapat diputar kembali melalui investasi untuk menciptakan nilai tambah baru.

Sederhananya: Dividen menghasilkan investasi

Investasi menghasilkan laba. Laba menghasilkan dividen. Dividen kembali menjadi investasi. Dari siklus tambahan itulah negara memperoleh manfaat berulang. Uang tidak berhenti sebagai penerimaan, tetapi berputar menjadi modal untuk menciptakan nilai ekonomi baru.

Editor : Editor
PWI Sumbar 2PWI SumbarHJK Padang 357 - JPSHJK Padang 357 - JPS 2HJK Padang 357 - FWP DPRD SumbarHJK Padang 357 - KI Sumbar
Bagikan

Berita Terkait
Terkini