Bahkan ketika seseorang telah puluhan tahun hidup di rantau, konsep “pulang” tetap mempunyai tempat yang kuat dalam kesadarannya. Ini menunjukkan bahwa rantau bukan sebuah proses keterputusan. Ia adalah jarak yang tetap memiliki jalan kembali.
Perbedaan kelima: diaspora mempertahankan identitas, perantau membawa identitas. Ada perbedaan filosofis yang menarik. Dalam banyak kajian diaspora, salah satu pertanyaan penting adalah bagaimana suatu komunitas mempertahankan identitasnya di tempat lain.
Sementara perantau Minangkabau sejak awal membawa identitas itu bersamanya. Ia datang ke rantau sebagai orang Minangkabau. Ia kemudian beradaptasi dengan lingkungan baru. Karena itu, bukan hanya: “Bagaimana identitas Minangkabau dipertahankan di rantau?”, Tetapi juga: “Bagaimana identitas Minangkabau berinteraksi dengan lingkungan rantau?”
Ini membawa kita kepada prinsip Minangkabau yang sangat terkenal: “Dima bumi dipijak, disinan langik dijunjuang.” (Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung). Ungkapan ini merupakan prinsip adaptasi sosial yang luar biasa.
Perantau Minangkabau menghormati tempat dimana dia berada, menghormati masyarakat setempat, menghargai aturan dan kebiasaan setempat, membangun hubungan, selalu berintegrasi tetapi integrasi tidak berarti kehilangan identitas. Perantau Minangkabau selalu membaur tanpa tercerabut. “Dima bumi dipijak” bukan berarti lupa dari mana berasal. Inilah yang sering luput ketika kita membicarakan orang Minangkabau di rantau.
Ungkapan dima bumi dipijak, disinan langik dijunjuang bukan ajaran untuk menghapus identitas asal. Justru sebaliknya. Ungkapan itu menunjukkan kecakapan kultural untuk hidup dalam perbedaan. Perantau Minangkabau memahami bahwa ia tidak hidup sendirian. Ia harus menghormati tempat baru. Namun menghormati tempat baru tidak berarti menghapus tempat asal. Karena itu prinsip tersebut dapat dibaca sebagai adaptif secara sosial, tetapi tetap memiliki akar identitas.Di sinilah konsep perantau menjadi sangat berbeda dengan sekadar konsep diaspora.
Perbedaan keenam: merantau mempunyai fungsi pembentukan manusia. Merantau juga mempunyai dimensi pendidikan. Rantau merupakan tempat seseorang belajar menghadapi kehidupan, belajar kemandirian, belajar mencari penghidupan, belajar berkomunikasi, belajar beradaptasi, belajar membaca masyarakat, belajar membangun jaringan, belajar mengembangkan kemampuan. Belajar dalam ruang kebebasan di alam inilah yang dinamakan “alam takambang jadi guru”. Belajar kepada alam, belajar dengan lingkungannya dimana dia berada, yang ujungnya beradabtasi dengan tempat dimana dia berada.
Dengan kata lain, rantau merupakan ruang pembentukan manusia. Karena itu merantau bukan sekadar perpindahan penduduk. Ia adalah social mobility sekaligus cultural learning.
Seseorang anak Minangkabau pergi ke rantau untuk menjadi lebih matang. Dan keberhasilannya di rantau sering mempunyai nilai ketika dapat memberikan manfaat kepada keluarga dan ranah.
Editor : Editor
