Oleh: Pinto janir Seniman , BudayawanAKU tulis pikiran ini malam-malam.Kubuka jendela, terbentang cakrawala nan sunyi. Biasanya, dalam diam ini aku “membaca” apa benar yang terasa di hati dalam percakapan diri yang putih.
Di langit ada bulan nan satu tergantung bercahaya mesra dengan bintang-bintang. Begitu damainya malam. Aku berharap, damai ini terbawa hingga matahari bersinar siang nanti.Entah mengapa, aku selalu menjadi seorang paranoid menghadapi siang. Siangku siang tak damai.Telingaku gaduh sekali. Hiruk pikuk dan perbedaan tampaknya makin meruncing makin berketentangan makin menyiksa batinku. Aku rindu nusantara yang damai. Aku rindu nusantara yang seiya sekata.Aku rindu nusantara yang teduh.Aku rindu pada nusantara yang sehina semalu.
Tapi betapa ngilu rasanya ketikamana saling hina, saling memberi malu menjadi tradisi buruk di tengah kehidupan kita ini.Ah, aku mengumpat pada keadaan yang membuatku luka-luka.
Aku isap rokok yang hampir terpuntung ini dengan segelas kopi sisa berbuka tadi, aku picingkan mata kuat-kuat, ada noktah-noktah putih bagai telong-telong. Makin keras aku menekan mata, makin terdaguk nafas dalam diam, lalu titik-titik itu bersatu dalam pikiran mata terpejam.Aku tarik nafas, melepaskannya pelan-pelan dan kemudian membuka mata diam-diam, lalu pandanganku terhantak pada dinding bercat hijau itu.
Aku kaget sendiri, ternyata alam bawah sadarku telah melukis bayang sendiri. Ya, bagai klise filem, bayang-bayang itu menjadi layar terkembang.Ah, ada apa ini? Dinding yang bagai layar itu mengapa menampilkan sosok yang aku kenal. Sosok itu terhampar jelas di dinding. Dinding pikirankah? Atau, apakah ini bagian dari ilusi optik semata matanya mata?
Tapi mengapa, yang terona wajah seorang Muhaimin Iskandar yang akrab dengan panggilan Cak Imin. Mengapa? Ha, apakah aku berilusi.Di ruang pikiran, bayang-bayang Cak Imin tersenyum. Ia seperti menyapa. Aku ragu, apakah ‘telepati’ hati Cak Imin sudah begitu kuatnya merasuk dalam jiwaku ini?Aku mengenal Cak Imin.Kami pernah berjumpa, pernah pula bercakap-cakap. Aku menangkap senyumnya. Tak ada kesan dibuat-buat.Mungkin itu senyum yang datang dari hati. Aku menangkap rona wajahnya, airmukanya, sejuk nian.Begitulah aku, bagiku untuk mengenal orang tak butuh waktu lama-lama. Aku yakin sekali, batang tubuh adalah isyarat jiwa. Sedangkan gerak raga bukankah isyarat hati?Kalau dalam kaji-kaji pandeka (pendekar atau pesilat) ada ruas-ruas yang dengan kasat mata bisa kita baca. Salah satu ciri pandeka sejati adalah keramahan dan kerendahan hatinya.
Cak Imin begitu sangat rendah hati. Ia menyapa. Ia menyambut kita dengan salam hangat. Kami bercakap-cakap seolah-olah dua sahabat yang sudah lama tak bertemu. Padahal, bukankah aku baru bertemu dengannya. Dan ujung perkataan sesaat akan berpisah, salamnya adalah salam rasa berdunsanak. “ Sampaikan salam saya pada keluarga !”.Mulai dari gaya tegaknya, sungguhlah gagah. Dapat saya baca, ia memiliki kuda-kuda hati yang kokoh. Orang kampung saya, Minangkabau, kalau sudah melihat orang gagah, takah, tokoh maka kepantasan dan kepatutan lekat kepada dirinya. Karena patut ia menjadi pantas, karena pantas ia menjadi teladan, karena diteladani, ia menjadi pemimpin.
Ya, Cak Imin adalah tokoh yang patut dan pantas menjadi pemimpin di negeri yang sama-sama kita cintai ini.Lalu, pandeka itu harus cerdas. Dari dialog-dialog pada percakapan itu, saya menangkap kecerdasan Cak Imin. Dan yang lebih terasa sekali, Cak Imin adalah sosok yang sangat responsif. Aku kira, Cak Imin kental dalam aroma kecerdasan sosial, spiritual serta intelektual.
Bercakap-cakap dengannya sungguh mengasikkan. Segala isu “berat” dikupas dengan cara ringan; bukan sebaliknya, di mana yang sering terjadi adalah isu ringan dikupas dengan gaya bicara yang berat.Dan aku berupaya “mengenal” Cak Imin lebih banyak dari pikiran-pikirannya yang tersebar di berbagai media online. Dan dapat juga kita simak, bahwa Cak Imin adalah tokoh yang sangat taat.Ia sangat agamis. Kubaca pada sebuah literasi, bagi Cak Imin agama bukan untuk menyulitkan hidup.Bukan untuk dipersulit, tapi bukan pula untuk dimudah-mudahkan. Agama bagai suluh, ia memberi terang. Terang jalan hidup di dunia dan terang sampai menuju akhirat. Agama bukan media kegelapan atau gelap mata, agama adalah menuntun manusia untuk berpikir,berhati dan berakal menuju kehidupan yang bijaksana untuk selamat dunia dan akhirat.
Editor : Adrian Tuswandi, SH