Cak Imin dari Join hingga Garin

(foto: google)
(foto: google)

Jokowi memang kuat. Tapi sekuat-kuatnya Jokowi, itu bukan berarti Jokowi tak bisa dikalahkan, apalagi kalau yang muncul adalah Garin. Namun, sebaliknya, kalau yang terpasang itu adalah Join (Jokowi Cak Imin) maka dapat diniscayai pada tahun 2019 adalah tahun-tahun tetapnya Jokowi-Cak Imin.Aku menarik nafas dalam-dalam. Kulihat jarum jam telah menunjukkan pukul 03.30 Wib. Aku menutup jendela untuk bersiap-siap makan sahur.

Tapi, mengapa bayangan Cak Imin belum lenyap juga?Selamat pagi Indonesia. Salam terbit, wahai dikau nusantara.

Sahurku sudah selesai. Subuh sudah berlalu. Fajar di ufuk timur, pula telah menyingsing. Tapi, mataku belum kunjung mau diajak tidur. Pikiranku, dan segala apa yang kupandang kini, terus menari-nari di pelupuk mata dalam rentak gendang nusantara.Dari sini aku memandang Gunung Marapi dan puncak Singgalang; ia seperti sinyal dan energi yang gagah dan kuat sekali.

Kemudian angin menyampaikan ngiang dan kabar bathin, tentang Cak Imin. Hey, mengapa selalu Cak Imin nginap di tak benak kepalaku?Melihat kekuatan massa, melihat dukungan yang ada yang menupang pikiran seorang Cak Imin, aku berpikir, bukankah peluang dan pintu yang sangat lebar terbuka untuk seorang Muhaimin Iskandar justru adalah menahkodai “kapal besar nusantara” bernama Indonesia.

Kalau kuutamakan egoistik emosional kedekatan rasa, fakta yang terlukis indah itu –setidaknya bagiku dan mungkin juga bagi kita semua; bahwa Cak Imin adalah tokoh yang pantas dan yang patut untuk jadi calon presiden.Kita tahu, seorang Cak Imin adalah jago runding. Diplomasinya, diplomasi “menyembuhkan”. Kalau pun ada di tangannya pedang, niscaya, pedang itu bukan ia pakai untuk melukai, namun untuk merambah rimba-rimba yang penuh duri-duri yang menyemak di hutan nusantara; dan itu pun dengan kasih sayang.

Ini pula yang mengingatkan ku pada sorang Gus Dur. Tak seorang pun yang pernah menyangka, bilai Gus Dur yang kiyai dan sekaligus Gus Dur yang budayawan itu akan menjadi presiden Indonesia. Dunia tersentak. Ruang pikiran Gus Dur beristana !Kalau pandang-pandang langit pandang bumi, banyak tokoh memang yang tak bisa lepas dari pelukan sejarah republik yang sangat kita cintai ini. Salah satunya Megawati. Sikap bijaksana Megawati tampak oleh saya ketika ia memberi lampu hijau pada kadernya untuk maju menjadi calon presiden pada pilpres tiga tahun silam. Maka nama Jokowi tak tertahankan. Jokowi JK melambung dan merebut hati rakyat Indonesia untuk kemudian ditetapkan dan dilantik jadi Presiden Republik Indonesia.

Kemenangan Jokowi JK tak bisa dilepaskan dari peran ulama, para kiyai dan umat nahdliyin yang mengirimkan gelombang besar dalam bentuk kesepakatan dan dukungan untuk Jokowi-JK. Sejak menuliskan, mereka menang.Beberapa hari yang lalu, Indonesia menyampaikan kabar dan kita membacanya. Kabar berita itu adalah kabar santun ketika seorang Gatot Nurmantyo mengunjungi seniornya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dalam poto tergambar, betapa sungguh sangat santunnya Gatot. Ia cium tangan SBY. Seorang jendral mencium dengan hati , tangan seniornya. Ia membungkuk hormat sekali. Luar biasa pesan sejuk yang tampak dalam potret itu.

Munculnya Gatot di panggung politik Indonesia, bukanlah kemunculan yang tiba-tiba; bukan begitu.kemunculan gatot adalah kemunculan yang di saat mana waktu dan ruang telah menunggu. Ketika rakyat Indonesia menengadahkan tangannya untuk berdoa dan meminta “diturunkannya” seorang pemimpin, Tuhan mendengarnya; maka Gatot seolah-olah datang dari langit sebagai jawaban Tuhan atas doa anak bangsa.Bagi saya, hidup adalah pikiran yang menyenangkan.Hidup adalah kabar yang membahagiakan. Hidup adalah energi positif untuk sikap berahmat dan barokah serta menyulam kebersamaan.

Kunjungan Gatot ke SBY itu pesan kabar bersulam bahagia; bahwa bisa saja Partai Demokrat akan menyerahkan amanah kepada Gatot.Tapi, apakah Gatot akan dipersandingkan dengan “putra mahkota” yang akrab dengan akronim AHY. Saya berpendapat beda, Gatot – AHY adalah sikap politik riskan. Penuh risiko. Gatot-AHY begitu berpasangan, dalam dugaan-dugaan saya, isu yang akan mengapung adalah isu militerisasi. Isu ini akan menjadi makanan gurih dan makanan empuk bagi para lawan.

Dan aku melihatnya, politik terkini—di saat mana meningginya sensitivitas massa---maka “rasa” menjadi subjek bukan obyek. Kalau rasa tersentuh, orang tak memandang obyektivitas sebuah ketetapan; tapi lebih berpegang pada rasa. Keputusan politik dan keputusan publik, mungkin lebih cepat dari detak detik waktu yang berjalan. Sekalipun, di saat keyakinan bahwa kita akan segera mencapai puncak, bila sedikit saja tergelincir; semua menjadi anjlok dan jatuh tapai.Saya berasumsi, SBY akan berbijaksana dan akan menyiapkan AHY pada pilpres 2024. AHY mungkin saja akan disiapkan menjadi calon “sekali maju untuk jadi” bukan “sekali maju untuk kalah dan maju lagi lalu kalah lagi” hingga menua dan lalu kehilangan momen.

Editor : Adrian Tuswandi, SH
Banner InfografisBanner - Gor
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini