Bagi Cak Imin, jihad bukanlah dengan cara meletuskan diri untuk orang banyak, namun mencetuskan perbuatan baik untuk umat dalam apa yang kita sebut dengan rahmatan lil alamin.Oleh Cak Imin, meledakkan diri dengan bom dan kemudian menimbulkan korban jiwa bagi banyak orang bukanlah jihad, tapi jahat dan itu namanya bunuh diri dan pembunuhan. Ia tak mati syahid, tapi mata meninggalkan sayatan-sayatan luka bagi orang orang yang ditinggalkan akibat aksi bom bunuh diri.
Saya membaca pikiran Cak Imin dalam berbagai percakapan. Berkali ia berkata, Islam cinta damai dan Islam bukan agama kekerasan.Cak Imin adalah pengutuk orang-orang yang berlaku merugikan diri sendiri dan orang lain.
Baginya, ia tak akan pernah melihat perbedaan-perbedaan dari perspektif yang melahirkan pertentangan-pertentangan. Katanya, bila kita berdiri dari sudut mata pertentangan, maka akan perlawanan perlawanan. Namun, jika kita berdiri melihat perbedaan dari kacamata hati, yang lahir adalah ‘persaudaraan’.Saya mengikuti ‘pertentangan’ antara Cak Imin dengan Gus Dur yang nota benenya adalah pamannya (mamaknya) sendiri. Aku melihat, dan berasumsi bahwa beda pendapat antara Gus Dur dengan Cak Imin bukanlah sebuah pertentagan.Namun itu adalah cara unik dari seorang Gus Dur untuk melatih ponakannya dalam menghadapi “konflik” menuju kematangan. Mungkin begitulah cara unik seorang mamak mengajar dan memberi pelajaran pada seorang kemenakannya.
Gus Dur dan Cak Imin adalah pola mamak dan kemenakan yang sama-sama pintar dan saling menghargai dengan cara lain; cara yang tak biasa, yaitu seolah-olah bertentangan. Dalam bahasanya Minangnya, mamak berdaging tebal, ponakan berpisau tajam.Dan kita tahu, NU dan Muhammadiyah adalah sepasang organisasi umat terbesar di Indonesia. Soal NU dan Muhammadiyah, menurut pandangan kita ia mirip sehulu dua sungai satu muara.Mengapa, karena Hasjim Asy'ari pendiri NU dan Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah berguru pada guru yang sama yakni Syaikh Ahmad Khathib Al-Minangkabawi, ulama kharismatik asal Minangkabau.
Cak Imin sangat dekat dengan ulama-ulama NU. Dan, NU menetapkan dan mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa yang satu-satunya menjadi wadah penyalur aspirasi warga nahdlyin.NU pasti PKB
PKB pasti Cak Imin.Kekuatan NU kekuatan PKB sungguh sangat luar biasa. Kita tahu, warga nahdlyin adalah warga yang sangat setia kepada ulamanya. Dan ini yang menjadi kekuatan terbesar bagi Cak Imin dan PKB.
.......Aku merenung sejenak. Aku tengok kembali langit, bulan makin bagus saja. Isapan rokokku makin keras.Pikiran dan hatiku sedang bercakap-cakap dalam makrifat jiwa ‘membaca’ Cak Imin.Entah mengapa, ini malam ruang pikiranku berbilik lapang. Betapa asiknya sendiri mempercakapkan Cak Imin di ruang ini, ruang hati !Kita melihat Indonesia pada saat sekarang ini bukan dari sudut Ganti Presiden atau tetap Jokowi. Tapi, adalah dari sudut bagaimana “membawa” Indonesia ke masa yang lebih terang,cerah dan bermasa depan lebih baik.
Baiklah, bagai iklan sebuh produk yakni “apapun makanannya minumannya tetap titik titik”. Kutegaskan di sini, siapun calon presidennya, bila wakil presidennya Cak Imin, maka itu akan memberikan kekuatan yang signifikan. Yang berpotensi besar untuk menang!Cak Imin adalah “kunci wakil” yang memberi kekuatan pada sang Capres.
Kalau Jokowi berpasangan dengan Cak Imin (JoIn) , tak dapat tidak, keniscayaannya adalah kemenangan bagi Join. Dan itu siapapun lawannya.Namun sekiranya, di sisi lain, kalau Gatot Nurmantyo meminang Cak Imin, dan akronimnya menjadi Garin, maka ancaman kekalahan bagi pasangan Jokowi dengan X akan menjadi momok yang sangat menakutkan.
Editor : Adrian Tuswandi, SH