Airmata Ira

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Lalu, saya teringat ke Dirut saya sendiri --yang duduk di kelas bisnis. Ira yang lebih sukses duduk di ekonomi, baris belakang pula.

Saat itu, ASDP yang dipimpin Ira memang sedang terus melesat. Laba usahanya juga terus meningkat. Dibandingkan BUMN tempat saya bejerja, laba ASDP hampir 70 kali lipatnya.

Tapi, Ira duduk di kelas ekonomi, baris belakang lagi.

Meski saya kenal Ira sejak lama, dan saya tahu tingginya integritasnyi, saya masih tetap berdecak. Saya malu sendiri.

Lebih-lebih, saat beriringan di terminal bandara, saling nanya nginap di mana. Saya bilang di lokasi acara, Hotel Inna Garuda. "Aku di Amaris," kata Ira.

Saya kembali tercenung. Inna Garuda bintang 4. Saya pilih menginap di situ. Ira, di Amaris yang bintang 2.

Dan, saya makin tercenung, ingat Dirut saya. Dirut BUMN saya, yang labanya 1/70 laba ASDP, nginap di Hotel Tentrem. Hari itu, tarif Tentrem hampir 5 kali lipat tarif Amaris.

"Acara kita kan seharian. Hotel mung gawe turu," kata Ira, berbahasa Jawa yang artinya hotel cuma buat tidur semalam.

Saya, terkesiap. Saat itu.

Meski, ternyata itu bukan kali pertama saya tetap tercenung.

Editor : Editor
Sumber : https://disway.id/catatan-harian-dahlan/912960/airmata-ira
Banner InfografisBanner - Gor
Bagikan

Berita Terkait
Terkini