c. perikanand. perkebunan
e. sumberdaya mineral dan industri hilir dan lain-lain.Untuk menarik minat calon investor baik dalam maupun luar negeri, upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dalam bentuk kegiatan promosi investasi, antara lain: pameran investasi, investment forum dan business meeting skala nasional, regional maupun internasional, serta business matching dengan pelaku usaha.
Di samping itu, Pemprov Sumbar telah melakukan berbagai inovasi pelayanan publik agar semua urusan investasi cepat, mudah dan tidak berbelit-belit. Dengan sistem IT, pelayanan perizinan di Sumbar tidak perlu face to face. Tidak ada pungutan yang diluar aturan, sehingga dipastikan layanan perizinan cepat, tepat dan jauh dari pungli. Saat ini, rombongan Gubernur di Azerbaijan juga sedang berkunjung ke Asan Khidmat, satu pelayanan terpadu yang mendapat penghargaan terbaik dunia dari UN.Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sumatera Barat, perkembangan investasi di Sumatera Barat 2010-2017, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA), terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Penaman Modal Dalam Negeri (PMDN) pada 2010 (dalam miliar) target 789.000,00 realisasi 398.269,06 (50,28%), 2011 target 418.000,00 realisasi 1,678.383,80 (401,53 %), 2012 target 439.000,00 realisasi 749.934,63 (170,83 %), 2013 target 461.000,00 realisasi 873.761,90 (189,54 %), 2014 target 480.000,00 realisasi 1.233.021,83 (256,88 %), 2015 target 501.000,00 realisasi 3.185.075.82 ( 635,74 %), 2016 target 3.280.628,09 realisasi 3.795.575,50 (115,70 %), dan 2017 target 3.379.046,35 realisasi 1.516.964,30 (44,89 %).Sementara itu, untuk Penanaman Modal Asing (PMA), 2010 target 99.000,00 realisasi 17.807,96 (17,99 %), 2011 target 21.000,00 realisasi 65.259,99 (311,70 %), 2012 target 22.000,00 realisasi 86.194,93 (391,80%), 2013 target 23.000,00 realisasi 136.121,43 (591,83%), 2014 target 24.000,00 realisasi 29.568,14 (123,20%), 2015 target 25.000,00 realisasi 39.754,32 (159,02%), 2016 target 43.729,75 realisasi 79.268,10 (181,27%), serta 2017 target 48.102,73 realisasi 194.425,20 (404,19%).
Sepanjang 2018, total investasi yang masuk ke Sumbar sebesar 4,7 triliun rupiah atau mencapai 112 persen dari target 4,1 triliun rupiah. Investasi itu terdiri dari PMDN sebesar 2,3 triliun rupiah atau lebih rendah dari target yang ditetapkan sebesar 3,4 triliun rupiah. Namun, untuk PMA mencapai realisasi 341 persen dari target, yakni US $ 180 juta dari target yang hanya US $ 52 juta.Artinya, berkat kunjungan ke luar negeri dalam berbagai event, terlihat dari tahun ke tahun terjadi peningkatan modal penanaman investasi di Sumatera Barat secara signifikan.
Kemudian, kita lihat data kunjungan wisata mancanegara ke Sumatera Barat tahun 2013-2018, sebagai berikut: tahun 2013 jumlah wisman 48.710 orang, tahun 2014 jumlah wisman 56.111 orang, tahun 2015 jumlah wisman 48.755 orang, tahun 2016 jumlah wisman 49.868 orang, tahun 2017 jumlah wisman 56.313 orang, tahun 2018 jumlah wisman 54.369 orang.Untuk pertumbuhan komoditi ekspor Sumatera Barat sebelumnya mengalami penurunan. Oleh karena itu kunjungan kerja ke luar negeri juga dalam rangka membangun kepercayaan negara-negara yang dikunjungi, bahwa setelah kondisi gempa tahun 2009 telah kembali normal dan malah lebih baik dari yang sebelumnya. Selain itu juga mencari hal-hal baru yang mungkin dapat dikembangkan di Sumatera Barat untuk kerjasama saling menguntungkan kedua belah pihak.
Untuk tahun 2019, ditargetkan aliran investasi yang masuk mencapai Rp 4,3 triliun, dimana target ini meliputi PMDN ataupun PMA. Dibandingkan pada 2018 lalu, target investasi masuk ke Sumbar tersebut lebih meningkat. Sebelumnya target investasi masuk ini hanya sebesar Rp 4,1 triliun. Sektor pariwisata, perikanan, perdagangan dan energi terbarukan masih menjadi potensi yang sangat besar di Sumbar, dan ini menjadi peluang bagi investor yang berminat menanamkan modalnya.Sektor pariwisata masih menjadi fokus sebagai sumber ekonomi dalam percepatan pembangunan di Sumbar. Dalam kunjungan ke luar negeri bersama Gubernur Sumbar dan tim percepatan investasi Sumbar, selain energi terbarukan, sektor pariwisata selalu disosialisasikan kepada investor di berbagai dunia. Pola jemput bola ini diharapkan mampu mempercepat proses investasi masuk ke Sumbar.Dengan terjadinya peningkatan modal investasi karena hasil kunjungan ke luar negeri, terjadi peningkatan pendapatan masyarakat dari tahun ke tahun. Coba kita lihat tentang perkembangan PDRB sejak tahun 2011 sampai tahun 2018.Di tahun 2011, PDRB perkapita Sumbar baru (dalam jutaan) 22,64. Bandingkan dengan tahun 2018 meningkat tajam menjadi 42,38.
Mari kita rinci tahun pertahun, PDRB per Kapita (ADHB) Sumatera Barat dari 2011-2018. Tahun 2011 PDRB per Kapita (ADHB) Sumatera Barat 22,64, tahun 2012 23,74, tahun 2013 24,86, tahun 2014 25,98, tahun 2015 27,08, tahun 2016 37,28, tahun 2017 40,19 dan tahun 2018 42,83. Kemiskinan di Sumbar jauh di bawah rata2 nasional. Sedangkan pengangguran juga terus berkurang.Untuk pariwisata, prioritas tahun 2019 adalah pembangunan kawasan ekonomi khusus (KEK) pariwisata Mandeh di Pesisir Selatan dan KEK Mentawai di Taileleu, Pulau Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Ini bisa dikembangkan investor untuk percepatan infratruktur pariwisata di Sumbar. Termasuk potensi wisata lainnya di berbagai daerah di Sumbar yang belum terkelola dengan baik selama ini.
Pada bidang energi terbarukan, Sumbar memiliki setidaknya 17 titik geothermal atau panas bumi dengan potensi energi mencapai 1.600 MW atau yang tebesar di Indonesia bahkan dunia. Saat ini, PT Supreme Energi Muara Labuh sebuah konsorsium antara Indonesia, Prancis dan Jepang, menggarap potensi yang ada di Kabupaten Solok Selatan atau di sekitar kaki Gunung Kerinci, dan PT Hitay Daya Energy asal Turki menggarap potensi di kaki Gunung Talang, Kabupaten Solok.Lalu ada beberapa investor dari Amerika Serikat, dan sejumlah negara Eropa sudah menyatakan ketertarikan untuk berinvestasi di bidang energi terbarukan di Sumbar.
Editor : Adrian Tuswandi, SH