Reaktivasi Kereta Api

Two Efly, Wartawan Ekonomi. (Foto: Ist)
Two Efly, Wartawan Ekonomi. (Foto: Ist)

Dalam paparan Dinas Perhubungan Sumatera Barat pada Februari 2026 disebutkan jumlah penumpang rute tersebut meningkat dari sekitar 9.000 orang pada Januari 2025 menjadi sekitar 24.000 orang pada Januari 2026.

Lihatlah fenomena penumpang kereta api yang “manjun” ke kantong belanja Suzuya dan pusat perbelanjaan lainnya.

Dari Pariaman mereka berbelanja sambil nyucimat ke Kota Padang. Itulah pula dasar mengapa Suzuya hadir di Plaza Stasiun KA Simpang Haru. Ini jelas sebuah sinyal.

Masyarakat sebenarnya tidak meninggalkan kereta api. Masyarakat hanya membutuhkan kereta api yang hadir dengan jadwal yang tepat, tarif yang terjangkau, stasiun yang mudah dijangkau, dan tujuan yang memang dibutuhkan.

Bukan Sekadar Menghidupkan Rel

Sebagai jurnalis ekonomi, saya melihat rencana reaktivasi jalur Kayu Tanam menuju kawasan Darek harus dilihat lebih jauh.

Ini bukan sekadar proyek menghidupkan kembali rel tua. Ini adalah upaya menghidupkan kembali konektivitas.

Dalam rencana yang disampaikan Andre Rosiade, jaringan yang masuk program reaktivasi mencapai 248,5 kilometer.

Rinciannya: Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi–Limbangan 162 km, Padang Panjang–Batu Tabal 18 km, Batu Tabal–Solok 34 km, Solok–Muaro Kalaban 24 km, Muaro Kalaban–Sawahlunto 4 km, serta Naras–Sungai Limau 6,5 km.

Lima ruas pertama berjumlah 242 kilometer, sedangkan jika ditambah ruas Naras–Sungai Limau sepanjang 6,5 kilometer, total rencana reaktivasi menjadi 248,5 kilometer.

Bayangkan jika jaringan sepanjang itu kembali hidup. Padang terhubung dengan Kayu Tanam. Kayu Tanam terhubung dengan Padang Panjang.

Editor : Editor
Banner Relasi Publik
Bagikan

Berita Terkait
Terkini