Penyerahan dilakukan secara terbuka dan mendapat dukungan niniak mamak serta masyarakat setempat. Legitimasi adat berjalan seiring dengan proses hukum negara, memperlihatkan bahwa kesepakatan sosial dapat menjadi jembatan antara nilai tradisi dan kebutuhan pembangunan.
Di atas lahan itulah nantinya akan berdiri Sekolah Rakyat, sebuah ruang belajar yang dirancang menampung sekitar 3.000 siswa dari jenjang SD hingga SMA. Mereka adalah anak-anak dari keluarga miskin, rentan miskin, hingga miskin ekstrem. Anak-anak yang selama ini sering berada di batas antara melanjutkan sekolah atau berhenti karena keadaan ekonomi.
Bagi Dony Oskaria, sekolah tersebut bukan sekadar bangunan dengan ruang kelas dan tembok beton.
“Ini untuk memutus rantai anak kelompok rentan agar bisa bersekolah seperti yang lain. Negara mesti hadir untuk anak bangsa,” ujarnya.Di sekolah itu, para siswa akan belajar secara gratis dan tinggal di asrama. Fasilitas yang disiapkan bukan hanya ruang belajar, tetapi juga rumah ibadah, klinik kesehatan, lapangan olahraga, sarana air bersih, hingga akses jalan yang layak. Lingkungan yang diharapkan memberi mereka kesempatan tumbuh dengan lebih baik. Pembangunannya diperkirakan menelan anggaran Rp250 hingga Rp300 miliar.
Editor : MS