Di sana, pendidikan tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang jauh dan sulit dijangkau. Ia hadir sebagai harapan baru, sesuatu yang akhirnya bisa dimiliki, bukan lagi sekadar impian bagi banyak anak.
Dari Pusako Menjadi Harapan Bersama
Di Minangkabau, tanah adalah pusako. Ia dijaga, dirawat, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itu, keputusan masyarakat Tanjung Alam melepas sebagian tanah ulayat bukanlah perkara kecil. Ada pertimbangan panjang, diskusi adat, dan harapan besar yang menyertainya.
Tanah yang selama ini menjadi simbol warisan keluarga kini diberi makna baru. Bukan lagi sekadar milik yang dipertahankan, tetapi menjadi jalan untuk membuka peluang bagi masa depan bersama, terutama bagi anak-anak nagari yang kelak akan tumbuh dan belajar di sana.Rencana pembangunan sekolah membawa optimisme baru. Warga membayangkan kawasan yang kembali ramai, ekonomi yang bergerak, serta ruang berkumpul masyarakat yang hidup kembali. Masjid, pasar nagari, hingga kantor Kerapatan Adat Nagari (KAN) direncanakan ikut dibangun ulang sebagai pusat aktivitas sosial.
Editor : MS